Polres Pangkalpinang Limpahkan Berkas Perkara Oknum Guru Cabul, Jaksa Masih Meneliti Berkas

PANGKALPINANG – Polres Pangkalpinang telah melimpahkan berkas perkara kasus pencabulan oknum guru berinisial AS (55) terhadap siswi sekolah dasar sebut saja Bungga (12) ke Kejari Pangkalpinang.

Kepala Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Pangkalpinang, Abdul Azis pihaknya telah menerima berkas tahap satu kasus dugaan pencabulan terhadap siswi sekolah dasar sekitar tiga empat hari lalu.

“Benar kita menerima berkas perkara tahap satu. Jaksa sedang meneliti berkas perkara, bila dalam penelitian berkas tersebut dinyatakan lengkap atau P21 maka akan dilanjutkan ketahap pelimpaham tahap dua dengan menyertakan barang bukti dan tersangka,” ujarnya Azis dikonfirmasi suara.com, jaringan suarabangka.com Senin (22/2/2021).

Namun bila berkas perkara kurang memenuhi syarat maka Jaksa akan meminta penyidik melengkapi sesuai petunjuk yang yang telah diberikan dalam berkas kasus dugaan pencabulan tersebut.

“Saat ini Jaksa sedang meneliti berkas. Kita pelajari dulu apakah berkasnya sudah lengkap mungkin tidak kembali lagi nama besarnya langsung kita print satu,”

“Nanti tahap dua baru penyerahan tersangka dan barang bukti. Ini baru saja berkas dikirim beberapa hari ini, berkas sedang kita teliti ada waktu kita 14 hari,”terangnya.

Seperti diberitakan suara.com jaringan suarabangka.com sebelumnya, kasus pencabulan oknum guru SDN di Pangkalpinang terhadap seorang siswi SD swasta terungkap setelah orang tua korban melapor ke Mapolres Pangkalpinang pada November 2020.

Dalam laporan polisi terungkap bila tersangka telah mencabuli korban sebanyak tiga kali. Saat itu korban masih berusia 10 tahun atau duduk di kelas IV SD.

“Saat ini korban sudah berusia 12 tahun. Perbuatan pelaku dilakukan di kediaman korban sebanyak tiga kali. Saat itu korban dititipkan orang tuanya kepada pelaku, diduga korban dan pelaku ini masih ada hubungan keluarga,”ungkap Azis.

Kasus pencabulan ini terungkap saat ibu korban akan berangkat ke gereja sekaligus pergi arisan dengan mepersiapkan kue. Korban yang mengetahui ibunya akan pergi menolak untuk dititipkan kepada pelaku.

“Jadi begini, ibu korban mau ke gereja hari Minggu membawa kue. Tiba – tiba korban datang dan bilang ke ibunya,buk mau kemana? Ibunya menjawab ibu mau ke gereja ada arisan. Korban kemudian mengatakan kepada ibunya bila nanti ada paman (boru..red) mau kesini saya tidak mau buk,” urainya.

Mendengar ucapan itu, orang tua korban merasa curiga dan langsung menanyakan prihal kenapa sang anak tidak mau dititipkan kepada pelaku.

“Saat itulah korban menceritakan semua perbuatan pelaku. Tidak terima dengan perbuatan pelaku ibu korban langsung melapor ke Polisi berikut dengan hasil visum,”ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Pangkalpinang, AKP Adi Putra mengatakan tersangka ditangkap setelah polisi mendapat laporan dari pihak keluarga korban.

“Perkara laporan polisinya di bulan November 2020 dan sudah di tahan sejak tanggal 4 Desember 2020. Saat ini dalam proses kelengkapan berkas untuk dilimpahkan ke JPU untuk P21,” ujar Adi Putra dikonfirmasi melalui pesan WhatsAap, Jumat (5/2/2021).

Saat ditanya Tempat Kejadian Perkara (TKP) pencabulan berlangsung mantan Kapolsek Bukit Intan tersebut tidak merespon.

Kepala sekolah guru itu, H, saat dihubunggi Suara.com, mengungkapkan bila AS memang pernah mengajar di sekolah yang dia pimpin.

Namun, sejak satu bulan terakhir tersangka sudah tidak mengajar dengan alasan sedang ada masalah pribadi.

“Dia memang pernah mengajar di sekolah kami, tapi sekarang tidak lagi,” kata H singkat.

H tidak mengetahui secara persis dimana TKP pencabulan itu terjadi, namun dia memastikan kejadian bukan dilakukan di sekolah tempat tersangka pernah mengajar.

“Saya juga terkejut mendapat kabar itu. Terakhir dia sempat memberi nilai kepada anak – anak bahkan dia juga sempat nyanyi – nyanyi di sekolah kami, nggak taunya sore hari itu dia tidak ada lagi, kami pun gelisah. Nah setelah itu baru kami tahu kejadian itu. Saya juga kaget,” ungkapnya.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang, Eddi Supriadi terkesan enggan memberikan keterangan kepada wartawan terkait adanya oknum guru cabul tersebut.

“Pemberitaan itu tidak penting karena dapat merusak nama baik Kota Pangkalpinang. Nanti kita ketemu sambil ngopi saja,” sebut Edi (wahyu/suara.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *