Pangkalpinang Menuju Predikat Kota Layak Anak 2021, Tercoreng Kasus Pelecehan Seksual

PANGKALPINANG – Ketua LSM Perlindungan Pemberdayaan Hak Perempuan dan Anak (P2H2P) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Zubaidah menyayangkan kasus pelecehan seksual terhadap anak terjadi pada saat kota Pangkalpinang sedang berjuang meraih pradikat madya Kota Layak Anak (KLA) tahun 2021.

Zubaidah menjelaskan untuk meraih predikat KLA terdapat syarat yang harus dipenuhi oleh kota Pangkalpinang, diantaranya bebas dari berbagai bentuk tindak kekerasan terhadap anak dan pelecehan seksual.

Zubaidah

“Untuk meraih predikat kota layak anak Pangkalpinang harus zero kekerasan terhadap anak. Nah apalagi ini masalah kekerasan seksual dan jelas – jelas merusak alat reproduksi seorang anak,” ujar Zubaidah, Selasa (23/2/2021).

Zubaidah juga menyoroti kinerja kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang terkesan tertutup dengan awak media terkait kasus pelecehan seksual dengan alasan dapat merusak nama baik kota Pangkalpinang.

“Sebagai pemerhati perempuan dan anak jelas saya kurang setuju dengan sikap kepala dinas pendidikan seperti itu. Untuk fakta seperti ini dinas harusnya tidak menutup fakta, bukan berarti kita ingin merusak citra kota Pangkalpinang sebagai kota layak anak di tahun 2019, bukan seperti itu,”

“Tapi inikan seolah olah menutupi kebusukan sementara kebusukan itu lama – lama akan tercium juga. Diam menutup fakta bicara lebih bermakna dengan fakta yang ada. Untuk apa kita bagus diluar kalau didalamnya busuk. Kita ingin informasi yang benar sesuai fakta yang ada “cetus Zubaidah.

Sementara terkait dengan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru terhadap siswi sekolah dasar di Pangkalpinang, Zubaidah mengatakan bila dia sudah mendatangi Polres Pangkalpinang untuk menanyakan sejauh mana proses hukum kasus tersebut. Dia berharap proses hukum kasus tersebut dapat dipercepat.

“Memang dari yang saya baca dari keterangan jaksa baru tahap satu benar adanya. Terus saya bilang kepada Kanit PPA Polres Pangkalpinang agar kasus ini anak tolong di percepat, kasihan. Kalau pelaku masa bodoh,”terangnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, untuk pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang notabene masih ada hubungan keluarga biasanya hukumannya akan lebih berat.

“Kalau pelaku masih ada hubungan keluarga apalgi satu darah seperti ayah, paman, sepertiga hukumannya lebih berat ancaman hukumannya. Apalagi diterapkan hukuman kebiri, itu saya sangat setuju,”terang Zubaidah. (ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *