JAKARTA – Ketegangan global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor pangan dunia. Lonjakan harga komoditas menjadi sinyal ancaman serius yang perlu diantisipasi, termasuk oleh Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono Caping, mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah strategis guna menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.
Ia memaparkan tiga langkah penting yang harus menjadi prioritas. Pertama, memastikan ketersediaan pangan sebagai pondasi utama kedaulatan nasional. Menurutnya, cadangan beras nasional yang telah menembus 4 juta ton harus dijaga kualitas serta dikelola secara optimal.
“Cadangan ini penting untuk melindungi masyarakat dari lonjakan harga akibat dampak perang dan krisis global,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Kedua, pemerintah diminta memberikan perlindungan maksimal kepada petani sebagai produsen utama pangan. Riyono menilai harga Gabah Kering Panen (GKP) dan jagung yang saat ini relatif baik harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan melalui skema insentif.
Selain itu, ia juga mendorong adanya asuransi pertanian guna mengantisipasi risiko gagal panen, terutama menghadapi ancaman kemarau panjang.
Langkah ketiga, Riyono menegaskan agar anggaran sektor pertanian dan perikanan tidak mengalami efisiensi. Justru sebaliknya, ia mendorong agar anggaran ditingkatkan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi krisis pangan dunia.
“Tugas negara adalah memastikan pangan tetap tersedia dan terjangkau hingga ke pelosok desa,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga distribusi dan keterjangkauan harga bagi masyarakat luas.
“Dengan situasi global yang semakin tidak menentu, langkah cepat dan terukur dinilai menjadi kunci agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas pangan dan melindungi kesejahteraan rakyat,”jelasnya. (*)
Sumber : rmol.id


