Oleh : Devita Sari
Mahasiswi Prodi S1 Bisnis Digital UBB
Gelombang transformasi digital kini tidak lagi hanya dirasakan di kota-kota besar. Di pesisir Pantai Bangka, perubahan itu mulai terasa—perlahan namun pasti.
Kehadiran financial technology (fintech) menjadi angin segar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini bergulat dengan keterbatasan akses keuangan dan pasar.
UMKM di wilayah pesisir bukan sekadar pelengkap ekonomi, melainkan tulang punggung kehidupan masyarakat. Dari olahan hasil laut, kerajinan tangan, hingga sektor pariwisata, semuanya memiliki potensi besar.
Namun sayangnya, potensi ini kerap terhambat oleh masalah klasik, sulitnya akses modal, minimnya literasi keuangan, dan terbatasnya jangkauan pemasaran.
Fintech Solusi Menjanjikan
Dengan sistem pembayaran digital seperti QR code dan dompet elektronik, transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan aman. Pelaku usaha tak lagi kehilangan pembeli hanya karena keterbatasan uang tunai. Lebih dari itu, fintech membuka pintu menuju ekosistem digital yang lebih luas—menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar di luar daerah, bahkan nasional.
Namun, realitas di lapangan tidak semulus yang dibayangkan. Banyak pelaku UMKM pesisir masih gagap teknologi. Literasi digital yang rendah, keterbatasan perangkat, hingga jaringan internet yang belum stabil menjadi tantangan nyata. Ditambah lagi, biaya layanan fintech yang dianggap membebani membuat sebagian pelaku usaha ragu untuk beralih.
Ironisnya, di tengah dorongan besar menuju inklusi keuangan, dukungan konkret masih terasa minim. Pelatihan dan edukasi terkait fintech belum merata. Banyak pelaku UMKM belajar secara otodidak, tanpa pendampingan yang memadai. Padahal, tanpa pemahaman yang cukup, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak maksimal.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil di lapangan. Program digitalisasi UMKM memang digaungkan, tetapi implementasinya di daerah pesisir masih setengah hati. Belum ada sistem pelatihan berkelanjutan atau insentif nyata yang mendorong adopsi fintech secara masif.
Meski begitu, optimisme tetap ada. Pelaku UMKM pada dasarnya menyambut baik kehadiran fintech. Mereka melihat peluang, bukan ancaman. Ini adalah modal sosial yang sangat penting. Tinggal bagaimana semua pihak—pemerintah, penyedia layanan, dan komunitas—bergerak bersama untuk menjembatani kesenjangan yang ada.
Sudah saatnya pendekatan yang lebih serius dilakukan. Edukasi digital harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap. Pelatihan penggunaan aplikasi seperti dompet digital, manajemen keuangan, hingga keamanan transaksi perlu diberikan secara rutin dan mudah diakses. Infrastruktur digital juga harus diperkuat agar tidak ada lagi wilayah yang tertinggal.
Lebih dari sekadar alat transaksi, fintech adalah katalisator perubahan. Ia mampu mendorong UMKM pesisir Bangka naik kelas—dari usaha tradisional menjadi pemain dalam ekonomi digital.
Kini, pilihan ada di tangan pelaku UMKM sendiri tetap bertahan di zona nyaman atau berani melangkah menuju perubahan. Di era digital, mereka yang mampu beradaptasi bukan hanya akan bertahan, tetapi juga memenangkan persaingan.
Dari pesisir Bangka, masa depan itu sudah di depan mata, tinggal bagaimana kita menyambutnya. (*)


