oleh

Emak Menangis, Alhamdulillah Negatif

Catatan Fakhruddin Halim

(wartawan, penyintas)

Setelah menjalani masa isolasi dan terpapar selama 10 hari, terhitung sejak pengambilan spesimen Tes PCR, Senin (16/2021). Maka Rabu (25/8/2021), malam, dilakukan pengambilan spesimen kedua kalinya.

Pagi ini, Jumat (27/8/2021), hasilnya keluar dan Alhamdulillah kami dinyatakan negatif. InsyaAllah, Sabtu pagi, terbang mengantarkan anak ke Asrama Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Tingkat SMP (Boarding School) di Kota Bogor.

Perjalanan itu seperti perjalanan menuju medan perang. Pergi selamat, pulang belum tentu selamat. Tapi insyaAllah saya optimis pulang dapat lancar tanpa harus tertunda. Jika harus sepuluh hari di Bogor atau Jakarta tentu akan sangat repot dan berpotensi merepotkan banyak orang.

Kamis petang kemarin, emak menelepon secara vidio call, baru beberapa patah kata keluar, emak menangis. Hatinya memang sangat lembut, lebih lembut dari salju.

Adik saya rupanya menelepon memberitahu kalau kami harus melakukan isolasi di isoter karena terpapar Covid-19.

Saya sengaja tidak memberi tahu. Tak ingin emak sedih. Jangankan mengetahui kami sakit, pernah suatu ketika saya pulang kampung, emak memerhatikan sepatu saya ada kulitnya yang terkelupas.

Memang sepatu itu cukup tua, sering saya pakai di segala medan, tapi masih sangat layak dipakai. Apalagi tidak mudah bagi saya untuk mengganti sepatu, sandal atau pakaian sebab ini berkaitan dengan ukuran saya yang tidak selalu tersedia di penjual.

Sebelum saya berangkat kembali, emak menyelipkan amplop untuk cucu-cucunya (anak-anak saya), dan untuk saya agar membelikan sepatu baru.

Suatu ketika ada keluarga yang pulang kampung. Pas musim panen padi. Saat menelepon setengah berkelakar saya sampaikan bolehlah kalau ada beras hasil panen dititipkan pada keluarga yang lagi mudik barang beberapa kilogram.

Memang nasi dari beras kampung kami sangat pulen. Enak sekali dan tidak mudah basi. Kalau lagi panas, apalagi keraknya, tanpa lauk pun enak disantap.

Emak mengira betapa saya sedang sangat kesulitan. Sampai-sampai harus dikirimi beras hasil panen sawah dari kampung.

Petang ini, sebelum meninggalkan isoter, Emak menelepon lagi bersama Bak. Saya sampaikan kabar baik ini. Keduanya tampak riang seraya berulangkali mengucapkan, “Alhamdulillah.”

Selama di isoter saya merasa enjoy saja. Makan secara teratur 3 kali sehari dan sudah disiapkan dalam kotak. Tidur pun saya bisa lebih cepat. Padahal sebelumnya paling cepat pukul 12.00 WIB bahkan menjelang pukul 03.00 WIB.

Rasa-rasanya berat badan naik. Beberapa kawan silih berganti datang dan ada saja yang dibawa.

Beberapa hari lalu rekan wartawan Ahmad Wahyudi (Yudi Kodok) mampir hanya beberapa menit cuma menyerahkan dua kantong plastik berwarna merah berukuran besar.

Satu kantong berisi aneka minuman seperti jus buah jambu biji merah dalam kemasan. Satu kantong lainnya berisi aneka kue kering.

Saya tentu sangat berterima kasih kepada seluruh kawan dan pihak yang selama kami dirawat memberikan perhatian yang luar biasa.

Terkhusus kepada seluruh Tenaga Kesehatan (nakes) dan petugas di isoter Pangkalpinang (eks Puskesmas Girimaya), yang memberikan pelayanan terbaik kepada kami.

Cepat, cekatan, sangat ramah dan super sabar melayani setiap pasien yang isolasi. Tentu kebaikan ini kami doakan semoga menjadi pahala jariyah, aamiin.

Perhatian dan motivasi itu mempercepat kami pulih. Sahabat saya sekaligus wartawan senior Iwan Piliang mengatakan modal utama sehat hati senang.

Ramuan Kuno

Selama di isoter kami sangat jarang berinteraksi antar penghuni satu dan lainnya. Bertegur sapapun ala kadarnya.

Usai pemeriksaan rutin biasanya kami langsung kembali ke kamar masing-masing.

Begitu pula dengan para nakes dan petugas lainnya yang merawat dan melayani berbagai kebutuhan. Hanya satu dua kali saja saya ajak mereka mengobrol.

Seorang nakes menyarankan saya rutin meminum rendaman bawang putih yang digeprek dan dicampur madu.

Caranya sederhana, geprek beberapa siung bawang putih, masukkan ke dalam cangkir atau wadah yang sudah terisi air panas, campur dengan madu secukupnya, diamkan semalam. Setelah itu diminum. Kini saya rutin meminumnya.

Saya minta seorang kawan Mashuri Alfatih mengantarkan setengah kilogram bawang putih.

Dia datang bersama Iqbal membawa pula madu, cangkir, piring dan setengah lusin sendok makan.

Bawang putih terkenal senagai ramuan kuno. Sejak masa Fir’aun di Mesir sudah menggunakannya sebagai obatan.

Bahkan saya pernah diajak rekan wartawan Romlan ke rumah seorang sahabatnya. Saya melihat Romlan membuka toples di atas meja, isinya bawang putih bakar. Oleh-oleh kalau tidak salah dari Lahat.

Saya pun ikut mencobanya, satu siung, dua siung dan berlanjut…

Selain itu, peneliti senior LIPI Prof. Dr. Erwiza Erman, menyarankan jika nafas terasa sesak agar saya mengunyah kembang cengkeh, lalu menelannya.

Selain itu minum rebusan daun sirih ditambahkan madu secukupnya. Hal ini sangat berguna untuk antibodi.

Berdasarkankan pengalaman keluarganya yang terpapar covid-19, mengkonsumsi ramuan itu cepat pulih.

Kemampuan Labkes

Pagi ini, Jumat (27/8/2021), kami terlibat obrolan dengan sejumlah nakes soal Tes PCR.

Kemampuan atau kapasitas laboratorium Kesehatan (Labkes) Kota Pangkalpinang yang terletak di belakang Kantor DPRD sekira 80 spesimen perhari.

Untuk ekstrak saja butuh waktu 3 jam lamanya, sebelum ke tahapan berikutnya.

“Ekstrak itu semacam adonan lah,” ujarnya.

Makanya kalau sampel yang masuk banyak harus antri bahkan baru bisa ketahuan hasilnya beberapa hari kemudian.

Bayangkan kalau dari satu puskesmas saja sehari masuk spesimen sampai 30 sampel. Ada berapa piskesmas di Pangkalpinang?

Padahal di Kota Pangkalpinang ada 9 Puskesmas. Jika satu puskesmas mengirimkan 30 saja maka, sehari ada 270 spesimen. Sementara kemampuan sehari cuma 80.

Selain di Labkes, alat itu juga ada di RSUD Depati Hamzah. Tapi khusus menangani pasien rawat inap di rumah sakit tersebut.

Tes swab PCR yang mendeteksi keberadaan materi genetik virus secara langsung yaitu RNA. Namun tes swab PCR jauh lebih rumit dan kompleks untuk dilakukan tidak seperti rapid test yang portable. Ini lah yang membuat tes swab menjadi mahal.

Untuk melakukan tes swab ada berbagai komponen yang harus disiapkan. Pertama tentu sampelnya sendiri. Namun untuk mengambil sampel dari hidung (nasofaring) dan tenggorokan (orofaring) membutuhkan medium atau yang dikenal dengan Viral Transport Medium (VTM).

Selain itu untuk mendeteksi keberadaan materi virus melalui materi genetiknya dibutuhkan reagen kimia serta alat-alat lain termasuk mesin PCR sendiri yang sering disebut sebagai thermal cycler.

Laboratorium deteksi pun tidak bisa sembarangan. Mengingat ini pandemi yang berbahaya, laboratorium uji juga harus sesuai dengan standard keamanan yang ditetapkan. Artinya tes swab tidak dapat dilakukan on site ketika sampling di suatu tempat, kecuali orang tersebut datang sendiri ke klinik atau rumah sakit yang memiliki fasilitas.

Tes swab PCR juga melibatkan tenaga medis yang juga harus dipersenjatai dengan APD lengkap agar aman. Ini semua tentunya butuh ongkos yang tidak sedikit. Sampai di sini artinya ada setidaknya tiga komponen yang harus tersedia ketika tes swab PCR dilakukan.

Pertama adalah komponen alat dan bahan (sampel, reagen, tabung), personel serta logistik dan infrastruktur (transportasi jika dilakukan di luar lab, laboratorium, mesin PCR, hingga unit penanganan limbahnya).

Mengutip CNBC Indonesia, 01 October 2020 12:13, ketiga komponen di atas tentunya memiliki ongkos yang tidak murah. Ambil contoh saja VTM.

Di beberapa platform e-commerce Tanah Air yang menyediakan VTM mematok harganya di atas Rp 3.000.000/unit yang berisi 50 pcs swab dan tabung serta medium untuk virusnya.

Coba dihitung secara sederhana saja, jika satu orang diambil dua sampel maka 1 kit tersebut bisa untuk 25 orang. Artinya ongkos per orangnya sendiri sudah Rp 120.000. Itu baru VTM saja. Belum bahan kimia yang digunakan untuk melakukan reaksi PCR.

Kemudian untuk infrastrukturnya sendiri, pengadaan mesin PCR untuk jenis real time yang digunakan untuk deteksi Covid-19 harganya berkisar di rentang US$ 15.000 – US$ 90.000.

Asumsi kurs Rp 14.800/US$, maka harga per unitnya bisa mencapai Rp 222 juta – Rp 1,33 miliar. Semua ini tergantung spesifikasi dan performa mesin PCR-nya sendiri. Semakin tinggi harga maka semakin canggih pula alatnya.

Pagi ini saya cek di sejumlah platfom e-commerce Indonesia harga alat itu per unitnya berkisar Rp87 juta hingga Rp100-juta.

Sebelum balik ke kamar, beberapa petugas isoter yang merawat kami selama ini saya tanya apakah sudah disuntik booster Moderna?

“Belum jadwalnya pak, karena harus sesuai jadwal,” jawab mereka diplomatis dan senada.

Saya terdiam. Air mata saya jatuh, teringat adik saya, perempuan muda dengan tiga anak yang masih kecil. Sejak Covid-19 mewabah ada di garda terdepan menjalankan kewajibannya sebagai nakes di Puskesmas.

Ketika awal Covid-19 itu pula, saya pernah menawarkan apakah dia mau pindah ke bagian staf di dinas atau kantor pemerintah lainnya. Adik saya menolak, Bak tidak mengizinkan.

Pekerjaan nakes adalah pekerjaan mulia. Kesempatan besar meraih amal, berjuang menolong orang. Soal maut, itu urusan Allah Swt. Begitu pesan Bak, kata adik saya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *