Fintech dan Gaya Hidup Konsumtif Mahasiswa di Era Social Commerce

Sekali Scroll, Sekali Klik, Sekali Menyesal?

Oleh: Della Yofika

Mahasiswa S1 Bisnis Digital UBB

Pernah berniat hanya “scroll santai” di TikTok, tapi berakhir dengan checkout barang yang bahkan tidak masuk daftar kebutuhan? Fenomena ini kini bukan lagi kejadian langka, melainkan potret keseharian banyak mahasiswa di era social commerce.

Platform seperti TikTok telah bertransformasi dari sekadar media hiburan menjadi etalase belanja yang sangat persuasif. Konsep shoppertainment—perpaduan hiburan dan belanja—membuat aktivitas konsumsi terasa ringan, spontan, bahkan tanpa beban. Di sinilah teknologi finansial (fintech) memainkan peran penting: mempermudah, mempercepat, sekaligus “menghaluskan” proses transaksi hingga nyaris tanpa jeda berpikir.

Dompet digital, fitur bayar nanti (buy now pay later), hingga cicilan instan menjadikan keputusan pembelian hanya sejauh satu ketukan jari. Tidak ada antrean, tidak ada proses panjang, dan yang paling krusial: tidak ada waktu refleksi. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa menjadi kelompok yang paling rentan.

Baca Juga  Intip Tips Matematika dari Medsos

Sebagai pengguna aktif media sosial dengan intensitas tinggi, mahasiswa terpapar konten promosi secara terus-menerus. Algoritma yang personal membuat produk terasa relevan, bahkan “dibutuhkan”, meski sebenarnya tidak. Di sisi lain, keterbatasan finansial membuat mereka lebih bergantung pada fitur cicilan atau paylater—yang sering kali terasa ringan di awal, tetapi berat di kemudian hari.

Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan juga persoalan psikologi perilaku. Dalam teori ekonomi perilaku, dikenal istilah friction atau hambatan dalam pengambilan keputusan. Fintech secara sengaja menghilangkan hambatan ini. Akibatnya, keputusan impulsif meningkat, sementara pertimbangan rasional menurun.

Baca Juga  Toboali dan Peluang Emas Bagi Pengusaha Muda

Namun, menyalahkan fintech sepenuhnya bukanlah solusi yang bijak. Di balik kemudahan yang ditawarkan, fintech juga membuka akses ekonomi yang luas. Pelaku UMKM kini memiliki peluang menjangkau pasar lebih besar, bahkan lintas daerah dan negara. Banyak mahasiswa juga memanfaatkan ekosistem ini untuk berwirausaha.

Persoalan utamanya terletak pada ketimpangan antara kecepatan adopsi teknologi dan kesiapan literasi keuangan. Data menunjukkan bahwa tingkat literasi finansial di Indonesia masih belum optimal. Artinya, banyak pengguna—termasuk mahasiswa—yang belum sepenuhnya memahami risiko di balik kemudahan tersebut.

Di sinilah pentingnya intervensi edukatif. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan mengelola keuangan pribadi. Edukasi finansial harus menjadi bagian dari pembentukan karakter, bukan sekadar pengetahuan tambahan.

Baca Juga  Belajar Bahasa Inggris dari Viralnya Web Series 'Layangan Putus'

Selain itu, platform fintech dan e-commerce juga perlu mengambil peran lebih aktif. Fitur pengingat anggaran, notifikasi pengeluaran, hingga jeda sebelum checkout bisa menjadi langkah kecil namun berdampak besar dalam menekan perilaku impulsif.

Pada akhirnya, fintech dan social commerce adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Yang bisa diubah adalah cara kita menghadapinya. Mahasiswa perlu membangun kesadaran bahwa kemudahan bukan berarti kebebasan tanpa batas.

Sebelum menekan tombol “beli sekarang”, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat? Karena di era digital ini, satu klik memang terasa ringan—sampai tagihan datang dan menyadarkan. (*)