Gubernur Erzaldi; Rumput Laut Dipadukan Porang Bisa Dikelolah Menjadi Mie

BANGKATENGAH – Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman meninjau sentral budidaya rumput laut di Pulau Nangka Desa Tanjungpura Kecamatan Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), Selasa (1/6/2021).

Gubernur dan rombongan disambut oleh petani rumput laut Tanjungpura, Suwandi beserta masyarakat setempat.

Gubernur berharap kedepan rumput laut yang tengah di budidayakan oleh petani dapat dijadikan bahan baku membuat mie dengan campuran Porang (umbi – umbian).

“Nanti rumput laut ini akan kita padukan dengan Porang, hasilnya menjadi mie. Tentunya mie ini menjadi lebih sehat karena kaya akan gizi,”ujar Erzaldi.

Dikatakan gubernur, berdasarkan pengamatan offtaker rumput laut yang dikembangkan oleh petani di Desa Tanjungpura memiliki kualitas yang sangat bagus dan berkembang pesat.

“Sangat disayangkan kita punya potensi dan wilayah laut yang besar tapi dibiarkan begitu saja. Ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Rumput laut ini juga mendatangkan ikan – ikan. Nah, para nelayan juga bisa diuntungkan,”sebut Erzaldi.

Mantan Bupati Bateng dua periode ini juga berpesan kepada Suwandi, petani rumput laut di Desa Tanjungpura agar terus mengembangkan budidaya rumput laut dengan mengajak masyarakat lebih banyak lagi.

Baca Juga  Komisi III DPRD Babel Minta PT WTC Segera Reklamasi Lahan Tambang di Perlang

Suwandi bersama tiga orang petani lainya menjadi tim pertama di daerahnya yang telah mengembangkan bibit rumput laut bantuan dari pemerintah.

Namun ditengah usahanya membudidayakan rumput laut itu, dia mengaku resah, apakah rumput laut yang dikembangkan apakah ada pembeli dan bagaimana cara memasarkannya.

Untuk menjawab kegundahan hari Suwandi dan ketiga rekannya, Gubernur Erzaldi Rosman bersama perwakilan Offtaker dari PT Paidi, Bupati Batang Algafry, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Babel dan Kepala Balai Benih Pertanian Pelempang untuk turun langsung kelokasi. Offtaker adalah kesepakatan yang mengikat secara hukum terkait transaksi antara pembeli dan penjual.

“Kami masih tahap mencoba, perawatan rumput laut ini sangat mudah. Tinggal ikat bibit rumput laut, bentangkan di tengah lautan. Beri penanda dari botol plastik. Sudah, masalahnya kami belum yakin, belum tahu siapa yang beli, ibaratnya percuma jika menanam sesuatu yang tidak ada pembelinya,” ungkap Suwandi.

Baca Juga  Penting! BRIN Dukung Program Prabowo - Gibran Lanjutkan Hilirisasi

Saat ini Suwandi bersama 3 orang temannya telah mengembangkan rumput laut di laut seluas 215mx25m dan telah menghasilkan 30 kilogram (kg) rumput laut. Untuk sementara waktu, hasil panen masih akan dijadikan bibit untuk pengembangan yang masif.

Perawatan yang tidak sulit menjadi keunggulan dari budi daya rumput laut. Cukup dibiarkan di tengah laut dan dipantau perkembangannya tiap 3 hari. Resikonya rendah. Nantinya, pembudidaya sudah dapat memanen rumput laut jika sudah berumur 35-45 hari.

Di lautan seluas 1 hektar petani bisa memanen 50-60 ton rumput laut. Dengan modal perahu, tali, botol bekas, dan bibit rumput laut, masyarakat bisa meningkatkan ekonomi. Tentu saja peningkatan ekonomi bisa didapatkan jika, hasil budi daya rumput laut ada yang beli.

Ini menjadi alasan Gubernur Erzaldi mengajak Pak Mus selaku offtaker PT Paidi Porang untuk mengambil peran dalam pengembangan budi daya rumput laut.

“Rumput laut ini bisa kita beli 1 kg nya Rp1.000 dalam keadaan basah. Jadi petani cuma angkat rumput laut dari perairan, tidak perlu diolah, langsung angkut, saya berterimakasih kepada bapak gubernur yang sudah mengajak saya ke sini,”ungkap Pak Mus.

Baca Juga  Pemerintah Targetkan Pendapatan Negara Rp1.840,7 Triliun Tahun 2022

Pak Mus menambahkan, bibit rumput laut yang dikembangkan ini untuk kebutuhan ekspor. Rumput laut ini memiliki nutrisi 3 kali lipat gizi susu.

Jika dihitung-hitung, ketika petani rumput laut berhasil mengembangkan di lautan seluas 1 hektar dan dapat memanen 50 ton dalam 1 kali siklus panen, maka petani akan mendapatkan Rp50.000.000 dalam waktu 45 hari siklus panen.

Kini petani rumput laut tidak perlu khawatir karena, Gubernur Erzaldi sendiri yang membawakan offtaker untuk membeli hasil produksi rumput laut dari para petani budidaya rumput laut.

“Hari ini kita memanen rumput laut sekaligus memperkenalkan petani budi daya rumput laut langsung dengan offtakernya,” ungkapnya.

Diketahui dalam tiga bulan terakhir  Gubernur Erzaldi bersama Pemerintah Kabupaten Bateng mengembangkan budi daya rumput laut. Desa Tanjung Pura menjadi lokasi kedua. (wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *