SUARABANGKA.COM – Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tetap terjaga dalam batas aman. Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 4,76 persen, yang dipengaruhi faktor temporer berupa base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga 50 persen pada awal 2025.
Dilansir dari halaman resmi Bank Indonesia, meski angka inflasi terlihat meningkat, tekanan dari sisi fundamental masih relatif terkendali. Hal ini tercermin dari inflasi inti yang berada di level 2,63 persen (yoy), didorong terutama oleh kenaikan harga emas di pasar global.
Sementara itu, inflasi kelompok volatile food (VF) tercatat sebesar 4,64 persen (yoy). Angka ini masih tergolong stabil meski terjadi lonjakan permintaan selama perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan 1447 Hijriah, serta adanya gangguan pasokan akibat faktor cuaca.
Bank Indonesia memproyeksikan inflasi IHK pada 2026 hingga 2027 tetap berada dalam kisaran target 2,5±1 persen. Namun, outlook tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, seiring potensi kenaikan harga komoditas global.
Ke depan, inflasi inti diperkirakan tetap terkendali, sementara tekanan pada kelompok volatile food berpotensi meningkat akibat naiknya harga pangan dan pupuk di pasar internasional.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat kebijakan moneter yang bersifat pre-emptive. Selain itu, sinergi dengan pemerintah juga diperkuat melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), guna memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan serta menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga. (**)


