Maras Taun, Simfoni Tradisi dan Silaturahmi di Ujung Negeri

BELITUNG – Langit cerah Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Pulau Belitung, suasana hangat penuh kekeluargaan terasa begitu kental. Di tengah momen Idulfitri 1447 Hijriah, masyarakat berkumpul dalam satu ruang kebersamaan melalui tradisi sakral Maras Taun—sebuah warisan budaya yang terus hidup di tengah arus modernisasi.

Kehadiran Hidayat Arsani, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, menjadi penanda penting bahwa tradisi bukan sekadar ritual, melainkan identitas yang dijaga bersama. Di kediaman tokoh adat setempat, Pak Dukun Ulim, gema doa dan harapan menyatu dalam prosesi yang berlangsung khidmat.

“Maras Taun bukan hanya tradisi, tetapi cerminan jiwa masyarakat Belitung—tentang syukur, kebersamaan, dan harapan,” ujar Hidayat dalam sambutannya.

Baca Juga  PJ. Gubernur Sampaikan Visi Babel Sustainable Development di Depan Forum G20

Tradisi Maras Taun sendiri telah lama menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam setiap rangkaiannya, tersimpan nilai gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat lokal. Tak heran jika kegiatan ini juga dirangkai dengan Halal Bihalal, mempererat silaturahmi usai bulan suci Ramadan.

Di tengah lingkaran para dukun kampung yang datang dari seluruh penjuru Pulau Belitung, suasana terasa semakin hidup. Mereka bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi juga penjaga nilai-nilai sosial yang telah diwariskan lintas generasi.

Baca Juga  Salurkan Zakat Pegawai PLN, YBM PLN Babel Gelar Baksos di Desa Tanjung Klumpang Beltim

Ketua Forum Kedukunan Adat Belitung, Muktie Maharip, menegaskan bahwa Maras Taun adalah bentuk “selamat kampung”—ritual syukuran yang mengikat masyarakat dalam satu rasa kebersamaan.

“Ini bukan hanya acara tahunan, tapi pengingat bahwa kita punya akar budaya yang harus dijaga,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar seremoni, Maras Taun menjadi ruang refleksi. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Belitung tetap berpegang pada nilai luhur yang mengajarkan saling menghormati, menjaga harmoni, dan memperkuat persatuan.

Bagi Hidayat Arsani, momentum ini juga menjadi ajang introspeksi. Hampir setahun memimpin, ia menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi kemajuan daerah. Namun di hadapan masyarakat, ia memilih merendah dan mengajak semua pihak untuk bersatu.

Baca Juga  Kementerian HAM Pantau Pertambangan Timah di Belitung

“Babel bersatu, masyarakat bersatu, adat tetap terjaga—itulah kunci daerah yang aman dan sejahtera,” tuturnya.

Sore itu, Maras Taun bukan hanya tentang tradisi yang dijalankan. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—di mana nilai-nilai leluhur tetap hidup, berdampingan dengan semangat pembangunan.

“Di Belitung, tradisi tidak pernah benar-benar usang. Ia hanya bertransformasi, menyesuaikan zaman, namun tetap berakar kuat di hati masyarakatnya,”tutupnya. (*)

Sumber : Biro Admin