KOBA – Dugaan keterlibatan oknum anggota TNI kembali mencuat dalam praktik penyelundupan timah ilegal di Bangka Belitung.
Hal itu terungkap saat Satlap Tricakti menggagalkan upaya pengiriman 22,4 ton biji timah dan timah balok.
Termasuk mengamankan satu unit mobil Pajero Sport yang diduga dikendarai dua oknum anggota TNI dari Koramil Taman Sari, Pangkal Pinang.
Dansektor Selatan Satlap Trisakti, Mayor Inf Yayat Nur Hidayat, membenarkan bahwa kendaraan Pajero tersebut menjadi perhatian khusus karena identitas pengemudinya.
“Saat dilakukan penyekatan, kami mendapati satu unit Pajero Sport membawa timah balok. Di dalam kendaraan itu terdapat dua orang yang diketahui merupakan oknum anggota TNI yang berdinas di Koramil Taman Sari, Pangkalpinang,” ungkap Mayor Yayat, Rabu (11/2/26).
Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi intelijen terkait pergerakan timah ilegal dari arah Toboali menuju Jebus melalui jalur darat Bangka Tengah.
Personel Pos Koba terlebih dahulu menghentikan dua unit truk bermuatan biji timah basah sekitar 17 ton di wilayah Jalan Namang.
Dalam pengembangan di lapangan, aparat kemudian mengamankan satu unit truk lain yang membawa timah balok, sehingga total timah balok yang disita mencapai 220 batang atau sekitar 5,5 ton.
Mayor Yayat menyebutkan, keberadaan oknum aparat dalam jaringan distribusi timah ilegal menjadi perhatian serius.
“Kami tidak melihat siapa pelakunya. Siapa pun yang terlibat akan ditindak sesuai aturan. Kegiatan ini jelas merugikan negara dan mencederai institusi,” tegasnya.
Berdasarkan pendalaman awal, timah balok tersebut diduga berasal dari sebuah gudang di wilayah Sadai.
Satlap Tricakti kemudian melakukan pengecekan terhadap gudang di sekitar PT Rajawali, yang hingga kini masih berada dalam pengawasan ketat aparat.
Seluruh barang bukti sementara diarahkan ke GBT Cambay untuk proses lanjutan. Sementara itu, status hukum dua oknum TNI yang diamankan masih menunggu mekanisme dan kewenangan institusional.
Kasus ini kembali menyorot praktik ilegal pertimahan yang tidak hanya melibatkan jaringan sipil, tetapi juga diduga menyeret oknum aparat berseragam, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum. (KBC)

