oleh

Oliver Twist di Bawah Kasur

Catatan Fakhruddin Halim

Oliver Twist. Salah satu Novel Favoritku. Ketika kelas 4 SD aku bahkan sudah mengkhatamkan beberapa kali.

Bagaimana kelas sosial Inggris. Kelicikan si Yahudi. Dan kehidupan Inggris pada waktu itu. Luar biasa.

Kami tinggal di Komplek sekolah. Ayahku kepala SD Negeri 24 Desa Talang Baru, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu-kini Kabupaten Rejang Lebong dicincang jadi tiga,
semua ingin dapat kue kekuasaan.

Nah, kunci kantor dan ruangan lainnya termasuk perpustakaan ayahku juga pegang. Sebab, terkadang ayah malam-malam butuh sesuatu misalnya kertas atau dokumen lainnya dan mesin ketik untuk membuat surat dan keperluan lainnya. Maka kunci cadangan ada digantung di rumah kami.

Buku di perpustakaan tidak boleh dibawa pulang. Kalaupun boleh maksimal 2 buku dan paling lama satu minggu. Kalaupun saya pinjam biasanya lebih banyak buku terkait mata pelajaran.

Padahal aku sangat hobi baca. Dan Novel Oliver Twist sangat ingin aku miliki. Sekali lagi sangat ingin aku miliki.

Pernah ku utarakan pada ayah aku ingin memilikinya. Tapi ayah mengatakan, “Tidak bisa. Itu punya sekolah, bukan punya ayah,” katanya.

Mau beli tidak ada yang jual apalagi di desa kami yang termasuk pedalaman itu. Di kota kabupaten saja tidak ada.
Ingat betul saya. Di sudut kanan atas sampulnya tertulis “Milik Negara, Menteri P dan K”

Ada toko buku kecil “SALMAN” langganan Ayah membeli buku bacaan umum dan pelajaran termasuk majalah seperti Panjimas, Tempo, dll di Kota Kabupaten, Curup. Tapi tidak menjual Novel Oliver Twist dan sejenisnya.

Biasanya ketika ke Kota Kabupaten Curup ayah menyempatkan membeli satu atau dua buku.

Terkadang hanya majalah Panjimas atau Tempo. Biasanya yang sudah bekas. Harganya jauh lebih murah. Maklum kocek ayah terbatas.

Dan setelah ayah selesai melahapnya, giliran saya biasanya pulang sekolah membacanya.

Ayah pun sering membeli koran Semarak Bengkulu dan Kompas.
Awalnya aku diajari cara membaca koran. Sebab, tidak mengerti apa maksud bersambung ke halaman.

Aku jadi paham oo begini baca koran.

Dari sanalah aku mengetahui banyak informasi yang tidak diketahui teman-temanku.
Soal perang Irak-Iran, Kuwait dan AS. Jadi bagaimana konstelasi politik Internasional khususnya soal timur tengah.

Bagaimana soal pembelian kapal eks Jerman oleh Pemerintah RI menimbulkan polemik. Dan Rezim Soeharta menyodorkan BJ Habibie sebagai juru bicaranya.
Lalu, bagaimana Pentolan ICMI itu mengundang para tokoh Petisi 50 ke PT PAL.

Termasuk pengadilan HR Dharsono.
Diam-diam saja jadi belajat politik.
Termasuk perseteruan antara Laksamana Soedomo dengan Jenderal Soemitro. Benny Moerdani, Ali Moertopo juga menjadi jenderal yang sangat ditakuti.

Saya mengenal lebih dalam tokoh-tokoh Masyumi dan pemikiran mereka seperti Muhammad Natsir, M Roem, Isa Anshari, Syafruddin Prawiranegara.

Termasuk HAMKA dan novel spektakulernya Tenhgelamnya Kapal Van Der Wijck.

Peristiwa Pembajakan Pesawat Woyla dan Peristiwa Pembantaian Talang Sari. Aku menjadi kaya akan informasi.

Nah soal apa yang aku baca aku ceritakan dengan teman-teman. Termasuk mereka juga aku ajak membacanya.

Tak hanya itu, Ayah juga penggemar Komik Khoo Ping Ho. Koleksi Ayah lumayan banyak. Aku pun ikut menikmatinya.

Meski baru duduk di Bangku SD, aku menjadi paham soal politik. Apalagi ayah sering menceritakan berbagai kejadian politik baik nasional maupun internasional.

Dan soal sejarah juga sangat menarik perhatianku.

Liputan Tempo soal Pak Harto sekeluarga naik haji diulas cukup lengkap. Aku menjadi kagum akan sosok wartawan yang meliputnya, sangat detil.

Kelak tatkala aku jadi Jurnalis aku mengenalnya sebagai senior yang baik bahkan kawan diskusi yang menyenangkan. Beliau almarhum.Budiman S Hartoyo mantan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI Reformasi).

Berbagai bahan bacaan tersebut aku baca jika tidak ada jadwal mandi di sungai terjun dari ketinggin ke lubuk, arung jeram menggunakan ban bekas atau rakit batang pisang, mancing atau nyari ikan. Atau jika tidak ikut Sapiril kawanku “karapan” kerbau.
Atau mencari buah-buahan hutan. Ada beragam buah-buahan biasanya kami temukan.
Termasuk rambutan hutan. Mengapa disebut rambutan hutan? Sebab rambutan tersebut itu tumbuh secara alami.
Rasanya asam. Biasanya ada juga bijinya tertelan atau sengaja kami telan. Jadilah kesokan harinya sulit BAB.

Lahan luas, tanah subur. Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tapi orang kampung kami jarang menanam pohon buah-buahan. Semua me.iliki alasan yang hampir sama.

Buat apa ditanam toh nanti tidak bisa menikmati hasilnya, bisa karena dicuri orang, karena tupai dan lain sebagainya. Akhirnya ya tidk ditanam. Saya yakin kalau semua kompak menanamnya pasti bisa menikmati hasilnya.

Atau menjelang sore ketika seluruh aktivitas permainan telah usai. Terkadang ada hal yang tidak aku mengerti aku tanyakan ke ayah.
Bahkan ada istilah yang kelak kuketahui tabu aku tanyakan ke Ayah.
Biasanya Ayah tidak langsung menjawab. Tapi dia menyuruh membuka kamus Bahasa Indonesia.
Tak juga ku mengerti, ayah cuma bilang, ” Ya sudah. Nanti pada saatnya kau akan tahu.’
Dan kelak ketika sudah SMP atau SMP baru aku tahu. Ooh itu toh.

Nah..akhirnya aku tidak tahan ingin memiliki lebih lama Novel Oliver Twist.

Satu malam, ketika Ayah keluar rumah. Dengan membawa senter aku keluar rumah menunu perpustakaan. Aku lihat ada beberapa eksemplar Oliver Twist.
Aku ambil salah satunya.

Setiap selesai membaca aku letakkan di bawah kasur agar tidak ketahuan Ayah. Benar-benar aku meresapinya. Anak seusia Oliver harus hidup di jalanan yang keras
masuk komplotan copet terorganisir.

Hingga kini Novel Olivert Twist masih tersimpan dengan baik. Kini Ayah bukan lagi kepala sekolah. Bahkan sejak lima tahun lalu sudah pensiun sebagai pegawai negeri.

Dan ketika akan pensiun beliau cukup sedih. Sebab, tanpa alasan yang jelas beberapa tahun akan pensiun dipaksa dipisahkan dari SDN 24 Talang Baru. Yang beliau mengajar dan mengabdi zejak tahun 1978.

Selama tiga puluh tahun lebih beliau ikut membangun sekolah tersebut. Dan beliau ingin pensiun bersama SDN 24. Tapi, pihak Dinas Pendidikan me.indahkan ke sekolah lain yang jaraknya pun cukup jauh dari kampung kami sekitar lima kilometer.

Bahkan beliau sempat “memberontak” mogok tidak mau mengajar. Beliau merasa dihinakan. Apalagi beliau tidak bisa naik kendaraan bermotor. Dan dikampung juga kendaraan umum juga sulit. Bagaimana pula beliau pergi dan pulang mengajar?

Padahal seingatku beliau sangat mencintai profesi beliau sebagai guru.
Beliau tidak pernah absen ke sekolah kecuali benar-benar sakit atau ada urusan kedinasan lainnya. Atau ada hal yang memang mengharuskan beliau tidak masuk sekolah. Tiga puluh tahun beliau menjadi kepala sekolah.

Ketika harus diganti dari kepala sekolah beliau tidak sedih.
Bahkan beliau kepada saya suatu ketika mengatakan sudah sejak lama Ayah mengusulkan agar diganti dari kepala sekolah. Tapi selalu ditolak. Dan memang sudah seharusnya diganti.

Meski tidak menjadi kepala sekolah, beliau berangkat ke SDN 24 sebagaimana biasanya, berangkat lebih awal. Berjalan kaki atau bersepeda. Sepanjang jalan dia bertemu dengan warga kampung, sahabat-sahabatnya.
Biasanya beliau mampir untuk ngobrol atau sekedar menyapa, sebelum melanjutkan ke sekolah.

Tapi, ketika dipindahkan beliau amat terpukul, ya sekali lagi terpukul. Bahkan murka!
Beliau merasa dipisahkan dari dunia yang sanagt beliau cintai, dari kehidupan beliau yang sejak tahun 1978, SDN 24 Talang Baru.
Sudah berapa ratus bahkan ribu lembar surat berstempel SDN 24 Talang Baru beliau tanda tangani.

Beliau juga merasa dipisahkan dari Desa Talang Baru. Dari anak didik dan akar sejarah beliau. Dari kehidupan sosial beliau.

Betapa tidak mengertinya pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Lebong yang diisi anak-anak muda yang tidak berpengalaman dan kurang peka. Yang tidak mengerti apa arti sekolah yang dicintai bagi seorang guru.

Tidak pula mengerti akan psikologis seorang guru yang membangun akarnya dan memiliki nilai historis dan sosiologis atas sekolah dan lingkungannya.

Inilah “pejabat” yang tidak bernurani. Yang tidak pernah mengerti akan seorang guru. Apalagi secara teknis menyulitkan beliau karena faktor jarak.

Sama sekali tidak menghargai jasa seseorang. Beliau tidak minta piagam atau penghargaan berupa uang atau kalungan medali. Sama sekali tidak!

Cukuplah melihat anak didik beliau menjadi orang yang pandai. Itu sudah lebih dari cukup membuat beliau menjadi bangga.

Dan berkali-kali beliau ke dinas minta agar tidak dipindahkan, tapi pihak dinas tidak menggubrisnya. Sungguh sangat tidak menghargai seorang guru yang hampir pensiun yang sebagian besar hidupnya mengabdi untuk pendidikan.

Meski pada akhirnya beliau mencoba mengambil hikmah dari kejadian itu. Barangkali ditempat yang baru bisa membantu membangun kualitas pendidikan disana.

Sebagai pendidik, kata beliau sebenarnya dimanapun tidak ada persoalan. Tapi, kata Ayah. Ini sudah mau pensiun. Dan beliau ingin pensiun di SDN 24 Talang Baru. Bukan di Desa Bajak.

Tapi apa boleh buat. Akhirnya beliaupun sekali lagi berbesar hati. Dan akhirnya mencoba enjoy saja. Saya pun melihat beliau mencoba betah. Meski tidak bisa disembunyikan ada rasa kecewa.

Nah soal Oliver Twist aku merasa bersalah. Bukan karena membacanya. Atau suka pada novel itu. Tapi, aku memanfaatkan posisi Ayah untuk mengambil yang bukan menjadi hakku. Ya, itu jelas salah. Maafkan… (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *