Merawat Tradisi Melayu: Menjaga Orisinilitas Tenun Cual Bangka (bagian-2)

Catatan Keluarga Maslina Yazid
(Penenun Cual di Pangkalpinang)

TENUN CUAL, tak saja sekedar produk kerajinan tangan dan busana kaum bangsawan abad ke-18. Namun sarat dengan nilai filosofis dan memiliki fungsi sosial. Selain itu, tentu saja memiliki fungsi ekonomi.

Tenun cual sebagai busana kebesaran bangsawan muntok abad ke-18 yang langsung menggambarkan status sosial seseorang pada masa itu.

Baca Juga: Cual Bangka dan Tradisi Bangsawan Melayu

Selain itu tenun cual juga identik busana pengantin. Hingga saat ini tenun cual digunakan sebagai busana adat pengantin dan keluarga pengantin.

Tenun cual juga kerap jadi mahar dan hantaran pengantin. Bahkan hingga saat ini tenun cual masih digunakan sebagai mahar dan hantaran pengantin pihak laki-laki kepada pihak perempuran.

Sebagai bagian dari kebudayaan, tenun cual juga sebagai busana pada acara adat tertentu. Sebagian besar busana pada acara-acara adat menggunakan tenun cual.

Bahkan, tenun cual digunakan sebagai busana sehari-hari. Baik tenun cual maupun kain bermotif tenun cual digunakan untuk busana sehari-hari dan busana resmi lembaga dan institusi.

Baca Juga  Cari Uang Pakai HP, Inilah 6 Aplikasi Penghasil Uang Halal

Pemberian saat menyambut tamu atau cinderamata. Tenun cual juga digunakan untuk menyambut tamu dan pemberian cinderamata kepada tamu, misalnya syal, selendang dan destar.

Benda hiasan dan dekorasi yang bernilai budaya, artistik, dan estetik misalnya hiasan dinding, dekorasi yang dililitkan melingkar di pohon.

Dengan melihat tenun cual dan kain motif tenun cual di ruang terbuka selain memanjakan mata akan keindahan motifnya, juga diharapkan mampu menyampaikan pesan tersirat dan motivasi kepada masyarakat tentabg ketekunan, kesabaran dan semangat pantang menyerah.

Sebagai benda bernilai ekonomis, tenun cual diperjualbelikan.

Keunggulan

Menjawab pertanyaan sebagian besar masyarakat, mengapa harga tenun cual relatif lebih tinggi atau mahal bila dibandingkan barangkali dengan kain tenun adat dari daerah lain?

Berikut uraian jawaban yang merupakan keunggulan tenun cual:

Kualitas tenun cual diakui dan telah mendapat apresiasi hingga di tingkat nasional.

Pada Tahun 2007, tenun cual kualitas terbaik mendapatkan Perhargaan dari 3 menteri:

Baca Juga  Pemprov Babel Kucurkan Dana Insentif Bonus Pengendalian Inflasi untuk UMKM

Pertama, Penghargaan Kreasi Tenun Lembaran Kategori Struktur Tenun Terbaik dari Menteri Perindustrian.

Kedua, Penghargaan Produk Tenun Terbaik pada Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Ketiga, Penghargaan Kualitas dan Produktivitas dari Menteri Tenga Kerja dan Transmigrasi.

Menjaga Kualitas

Perlu diketahui, pada tanggal 12-13 September 2011, tenun cual telah diresmikan sebagai Produk OVOP (One Village One Product) Kota pangkalpinang oleh Menteri Koperasi dan UKM RI dan ditetapkan dengan Keputusan Walikota Pangkalpinang Nomor 55 Tahun 2012, Tentang Penetapan IKM Tenun Cual Selindung sebagai IKM berbasis OVOP.

Tenun cual memiliki bahan baku dengan kualitas terbaik yakni benang sutera asli dan bahan pewarna tidak luntur dan mengkilap.

Tak hanya itu, tenun cual asli memiliki motif eksklusif dalam lindungan hak cipta.

Terkait motif, ada 10 sertifikat HAKI dan hak cipta motif dari Dirjen Kemenkumham RI.

Harus diakui tenun cual sarat dengan nilai historis. Mulai dari penenun, pengguna dahulunya merupakan paten keluarga bangsawan.

Baca Juga  Jaksa Agung Minta Para Jaksa di Babel Introspeksi Penegakan Hukum Terhadap Perusak Lingkungan

Setiap motif pun memiliki makna. Contohnya saja warna memiliki filosofi yang langsung menggambarkan status sosial sesorang.

Tak bisa dipungkiri, tenun cual memiliki ciri khas (deferensiasi) tersendiri. Sebab, merupakan identitas budaya dan jati diri daerah Kepulauan Bangka Belitung yang mayoritas bersuku bangsa melayu.

Tenun cual diproduksi menggunakan alat menenun tradisional yang disebut ‘gedogan’ sehingga edisi terbatas.

Gedogan merupakan warisan pengetahuan, teknologi dan keterampilan orang-orang Melayu abad ke-18 dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) atau Intangible Culture Heritage (ICH) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Proses pembuatan kain tenun cual memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Terutama dalam menyusun helai demi helai benang menjadi sebuah motif.

Maka hingga kini, tak banyak yang mampu membuat kain tenun cual yang orisinil.

Karena tingkat kerumitan, pengetahuan tentang motif dan kemampuan menggunakan peralatan tadisional tersebut, maka kini tak banyak pelaku usaha atau pengrajin tenun cual. (*)

Tinggalkan Balasan