Cerita Setelah di Pesantren

Catatan Fakhruddin Halim
(Pemred suarabangka.com)

Kini mereka sudah remaja. Melanjutkan pendidikan di sejumlah pesantren. Beberapa sahabat mereka lainnya berhalangan hadir dan ada pula yang sudah kembali ke pesantren.

Calon-calon pemimpin, insyaAllah generasi Khoiru Ummah.

Saya menyimak mereka bercerita tentang pengalaman selama di pesantren masing-masing.

Inspiratif, asyik, menyenangkan, penuh dengan perjuangan dan ada pula yang membuat saya harus menahan tawa, sebab ada kisah-kisah lucu yang mengingatkan saya pada film “Negeri 5 Menara”.

Petang itu Gaga, Ghozi, Abdullah dan Fardan menghadiri undangan saya. Selain empat remaja ini, saya juga mengundang Yusuf dan yang lainnya. Namun berhalangan hadir.

Petang itu kami semacam melepas kangen sembari menyantap hidangan yang telah disiapkan istri.

Baca Juga  Kuil Hercules

Saya menanyakan ke salah satu remaja ini, tentang dua kawan lainnya yang tidak ikut petang ini. Dua kawannya itu satu pesantren dengan dia di seputaran Jabotabek.

Selain itu, saya banyak bertanya ini dan itu pada mereka, soal hal-hal ringan seperti kalau pas waktu libur apa saja kegiatannya. Mulai dari pagi hingga malam.

“Main bola, istirahat, macam-macamlah. Intinya bebas,” kata salah seorang.

Saya pun kembali menanyakan soal dua kawannya yang tidak hadir itu. Bagaimana dengan hobynya mencari ikan. Apakah bisa tersalurkan?

“Iya bisa mancing pas libur,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, mereka bertiga yang sama-sama dari Bangka itu pernah menghabiskan ikan satu empang kecil
ikan gurami ludes mereka pancing hingga beberapa ember.

Baca Juga  Menunggu Keseriusan DPRD Babel

“Tidak sekaligus, kini ikannya habis,” katanya tersenyum.

Hasilnya mereka goreng dan panggang bersama santri lainnya di pesantren.

Empat remaja yang bertemu saya petang ini, ada yang fisiknya semakin langsing, ada pula yang semakin gemuk. Selain itu, yang dulunya berkulit hitam, kini semakin putih.

Remaja lainnya menceritakan bagaimana pengalamannya untuk pertama kali makan sayuran di Pesantren.

Maklum sebelumnya sangat jarang kalau bukan tidak pernah mau makan sayuran.
Setiap hari lauknya ayam goreng atau krispi.

Begitu pula remaja lainnya, menceritakan soal pengalamannya menyesuaikan diri dengan aturan pesantren yang membatasi ransum setiap kali makan.

“Setiap kali makan dijatah. Kecuali kalau semua sudah kebagian, ada lebih, boleh nambah, tapi jarang,” katanya, tersenyum.

Baca Juga  Robohnya Peradaban Kita

Barangkali itu pula yang membuatnya tampak lebih langsing.

Padahal ketika masih sekolah dasar selalu membawa makanan lebih dengan lauk “istimewa”.

Apalagi kalau mabit mingguan di sekolah. Untuk berbuka shaum sunnah dan makan malam selalu berlimpah.

Maka tak heran selalu dikelilingi kawan-kawannya.

Saya mulai mengenal mereka ada yang sejak TK, ada pula mulai kelas satu sekolah dasar
Hampir setiap hari bertemu hingga lulus sekolah dasar.

Sayang beberapa beberapa kawan mereka belum bisa hadir. Dan tentu pengalaman selama TK, SD dan kini di pesantren sangat berharga.

Mereka sedang mengukir sejarah hidupnya dengan pahat di atas batu granit. Dengan itu pula mereka sedang bergerak meraih cita-cita terbaiknya. (*)

Pangkalpinang,
27-05-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar