Amu Darya dan Imam Al-Bukhari

Catatan Fakhruddin Halim
(Pemred suarabangka.com)

Pagi tadi kiriman Bang Teguh Santosa sampai ke tangan saya. Buku berjudul, “di tepi amu darya” itu adalah kumpulan reportasenya selama berada di Uzbekistan, 19 tahun lalu.

Seperti ditulis Teguh dalam kata pengantar, kala itu ia bersama sejumlah wartawan asing berada di kota paling selatan Uzbekistan, Termez, persis di tepi Sungai Amu Darya.

Sungai Amu Darya memisahkan Uzbekistan dan Afghanistan yang mengalir dari pegunungan Pamir menuju Laut Aral sepanjang 2.400 kilometer.

Teguh dan wartawan lainnya mengadu keberuntungan menunggu-nunggu Jembatan Persahabatan yang menghubungkan Termez dengan Hairatan, kota paling utara Afghanistan, dibuka oleh pemerintah Uzbekistan.

Tetapi hingga Kabul jatuh ke tangan Aliansi Utara, Jembatan Persahabatan tak juga dibuka.

Persis seperti apa yang disampaikan wartawan senior Ilham Bintang, “Membaca reportasenya seakan kita ikut dalam perjalanan jurnalistik yang mendebarkan itu…”

Pada bagian #6 Teguh menulis dengan sangat lengkap soal Bung Karno, “Mencari Makam Imam Al Bukhari”.

Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al Ju’fi al Bukhari alias Imam Al Bukhari perawi Hadist Nabi Muhammad SAW, yang mahsyur berasal dari Thaskent, Uzbekhistan.

Baca Juga  Gerakan Kemitraan Inklusif UMKM Babel

Dikutip Majalah Tempo Sejarah Soekarno dengan Uzbekistan dimulai setelah Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Pemerintah Soviet mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow. Saat itu, Soekarno sadar, sebagai Presiden Indonesia yang dianggap sebagai pemimpin negara-negara non-blok, harus bersikap netral terhadap Blok Timur maupun Blok Barat.

Tapi disisi lain, Soekarno juga menyadari bahwa Indonesia butuh dukungan Soviet untuk melegitimasi eksistensi negara-negara non-blok, dan kesepakatan yang telah dicapai dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Soekarno juga menyadari membutuhkan dukungan Soviet untuk menghadapi berbagai upaya negara-negara Barat yang masih terus berusaha menjajah dan menguasai kembali Indonesia. Sementara itu, Soekarno mafhum bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam, sehingga tidak mungkin Indonesia akan ikut Blok Timur yang dipimpin oleh negara komunis Soviet.

Situasi itu yang oleh Soekarno disiasati dengan sangat cerdas dengan mengajukan syarat atas rencananya memenuhi undangan Pemerintah Soviet, dengan meminta dicarikan/ditemukan makam Imam Bukhari seorang perawi Nabi Muhammad SAW yang amat termasyhur itu. Kata Soekarno kepada Presiden Soviet, “Aku sangat ingin menziarahinya”.

Baca Juga  Kenangan Naik Indonesia One

Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev yang komunis tulen bingung. Siapa Imam Bukhari? Pikirnya. Khrushchev pun meminta Soekarno mengganti syaratnya, tapi Soekarno menolak.

Maka pemerintah komunis Uni Soviet mati-matian mencari makam ulama besar Islam ini. Bukan perkara mudah, Khrushchev pun hampir menyerah. Dia lagi-lagi menawar syarat dari Soekarno. Tapi Soekarno bersikeras Soviet harus menemukan makam Imam Bukhari.

Akhirnya, mereka berhasil menemukan lokasi makam Imam Bukhari. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak terawat untuk ukuran seorang ulama besar.

Khrushchev pun dengan gembira menyampaikan hal itu pada Soekarno.

Menurut Israil, muazim Masjid Imam Bukhari, menjelang kedatangan Bung Karno pada tahun 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar, hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Soekarno.

Baca Juga  Love of my Life

Penghormatan Soekarno terhadap Imam Bukhari dilakukannya dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya.

“Presiden Soekarno merangkak menuju makam lalu memanjatkan doa dan dilanjutkan salat serta membaca Alquran,” ujar Israil.

Reportase yang terangkum dalam “Amu Darya, lebih banyak merekam soal situasi ketegangan, konstelasi politik, diplomasi yang melingkupi dan yang menjadi latar dari konflik Afghanistan.

Sehingga dengan terang kita bisa menyimpulkan konflik yang terjadi tidak berdiri sendiri namun kental nuansa keterlibatan atau campur tangan pihak luar yakni kekuatan-kekuatan super power yang memiliki berbagai kepentingan.

Selain itu, Teguh merekam dengan baik soal kemanusiaan, sisi lain konflik yang seringkali dilupakan.

Buku ini istimewa, dilengkapi pula hasil wawancara dengan Dubes Afghanistan untuk Indonesia Roya Rahmani (kini Dubes untuk AS), jauh setelah Teguh di Uzbekistan. (*)

-di tepi kolong, sebuah pesantren-
Kamis 18 02 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Great V I should definitely pronounce, impressed with your web site. I had no trouble navigating through all the tabs as well as related info ended up being truly simple to do to access. I recently found what I hoped for before you know it at all. Reasonably unusual. Is likely to appreciate it for those who add forums or anything, web site theme . a tones way for your client to communicate. Nice task..