PT Timah Tbk melalui program CSR mendorong kemandirian ekonomi warga Pulau Setunak melalui program pemberdayaan. Sektor pendidikan tak luput dari perhatian.
SEJUMLAH perempuan di Pulau Setunak, Desa Tulang, Kecamatan Selat Gelam, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, mengaku senang mendapatkan pelatihan bertanam sayuran secara hidroponik. Apalagi mereka juga mendapatkan perlengkapan bertanam secara hidroponik secara cuma-cuma.
Peralatan yang mereka dapatkan seperti pipa, busa benih dan lainnya. Tentu saja bantuan peralatan ini memudahkan mereka mulai mempraktekkan pertanian hidroponik.
Salah satu peserta pelatihan Aisyah mengungkapkan rasa gembiranya mendapatkan pelatihan ini. Ia juga dilatih cara membuat nutrisi dari tumbuh-tumbuhan.
Menurut Aisyah, program ini sangat cocok bagi warga Setunak. Sebab, kondisi alam Setunak tak memungkinkan bertanam sayuran seperti tempat lain.
Sebagai daerah kepulauan, Pulau Setunak tidak cocok untuk pertanian. Hal ini lantaran dekat dengan laut, kontur tanah dengan bukit bebatuan dan didominasi rawa.
Padahal, saban hari keluarga Aisyah membutuhkan sayuran untuk dikonsumsi. Selama ini, untuk mendapatkan sayur-sayuran dan kebutuhan pangan lainnya Aisyah dan warga lainnya harus pergi membeli ke luar pulau seperti ke Selat Beliah dan Tanjung Balai Karimun.
“Apalagi setiap hari kita mengkonsumsi sayur, jadi saya senang dan mendukung kegiatan ini. Semoga program ini bisa berhasil dan sukses sehingga masyarakat Pulau Setunak dapat mandiri dalam menyediakan kebutuhan sayuran untuk keluarga yang baik dan juga sehat,” katanya, sumringah, beberapa waktu lalu.
Aisyah berharap melalui ilmu yang didapat selama pelatihan dapat dipraktekkan dan dikembangkan. Ia pun berharap dapat memenuhi kebutuhan sayuran bagi keluarganya.
Pelatihan bertanam sayuran ala hidroponik adalah satu dari Program Pemberdayaan Masyarakat melalui CSR PT Timah Tbk untuk Pulau Setunak.
Budidaya Kepiting
Selain pelatihan, PT Timah juga memfasilitasi masyarakat untuk budidaya kepiting dengan memberikan bibitnya. Warga setempat tinggal menyiapkan lokasinya.
Ketua Nelayan Pulau Setunak, Apid mangatakan penghasilan di laut tak menentu. Apalagi terkadang harus berhadapan dengan cuaca buruk. Jika ini yang terjadi, nelayan kerap pulang tanpa hasil.
“Kalau di laut banyak rintangan, belum lagi cuaca yang berubah dengan tiba-tiba ditambah lagi biaya operasional yang besar. Bahkan kadang kalau pulang dari laut bisa jadi tidak ada hasilnya. Makanya kami antusias menyambut program dari PT Timah Tbk ini,” ujarnya.
Apid tak sendirian. Dia bersama 30 nelayan Setunak mendukung program ini. Setelah pelatihan budidaya dan pembesaran kepiting, Apid dan nelayan lainnya akan menyiapkan kolam pembesaran.
Sebagai tahap uji coba mereka akan menyiapkan kolam berukuran 15 X 10 meter dan bisa menampung 500 ekor bibit kepiting.
“Beberapa waktu lalu saya bersama rekan-rekan diajak ke Jepara, ke salah satu lokasi yang telah mampu mengembangkan budidaya pembesaran kepiting. Setelah melihat serta mempelajari kami yakin mampu mengembangkan usaha pembesaran kepiting. Apalagi lokasi di Pulau Setunak masih sangat alami dan mendukung,” ungkap Apid.
Jika budidaya kepiting berhasil, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, bisa menjadi alternatif sumber ekonomi baru nelayan.
Sekilas Pulau Setunak
Pulau Setunak dihuni sekitar 54 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 140 lebih jiwa. Sebagian besarnya adalah nelayan.
Pulau ini masih memiliki ketergantungan dengan daerah sekitarnya terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Kawasan Setunak merupakan salah satu wilayah operasional perusahaan di wilayah Kepulauan Riau. Masyarakat dan aktivitas pertambangan hidup berdampingan.
Pulau Setunak memiliki mangrove yang indah. Untuk menjaga kelestariannya, PT Timah memberikan pelatihan bagi warga bagaimana menjaga mangrove.
Tak hanya itu, perusahaan juga membantu pompong atau perahu sebagai sarana transportasi antar jemput siswa sekolah yang terpaksa bersekolah diluar Pulau Setunak.(***)


