PANGKALPINANG — Di balik setiap capaian perusahaan, mulai dari peningkatan produksi hingga inovasi yang berkelanjutan, ada satu elemen yang tak tergantikan: manusia. Para pekerja, dengan dedikasi dan ketangguhannya, menjadi denyut nadi yang menggerakkan roda organisasi.
Momentum Hari Buruh menjadi pengingat bahwa hubungan antara perusahaan dan pekerja bukan sekadar formalitas, melainkan kemitraan strategis yang saling menguatkan. Di era modern, perusahaan pun semakin menyadari bahwa keberlanjutan bisnis tidak hanya ditentukan oleh modal dan teknologi, tetapi juga oleh kesejahteraan dan keterlibatan karyawan.
Direktur SDM PT TIMAH Tbk, Ratih Mayasari, menegaskan bahwa peran karyawan kini telah bergeser menjadi pencipta nilai utama bagi perusahaan.
“Karyawan dulu sering disebut aset. Tapi hari ini, mereka lebih dari itu, mereka adalah pencipta nilai utama. Teknologi dan aset bisa dibeli, tapi komitmen, integritas, dan keberanian bekerja di medan tambang hanya dimiliki manusia,” ujarnya.
Dalam industri pertambangan yang sarat risiko, kontribusi manusia dinilai tidak bisa digantikan. Karena itu, pendekatan terhadap kesejahteraan karyawan juga harus lebih komprehensif, tidak hanya soal finansial, tetapi juga mencakup aspek sosial, keamanan kerja, hingga peluang pengembangan diri.
“Kesejahteraan bukan sekadar materi jangka pendek, tapi bagaimana karyawan bisa tumbuh dan hidup lebih baik secara ekonomi, sosial, dan bermartabat,” tambahnya.
Ratih juga menekankan pentingnya menghapus sekat antara manajemen dan karyawan. Menurutnya, keberhasilan dan tantangan perusahaan adalah tanggung jawab bersama yang harus dihadapi secara kolektif.
Sementara itu, Ketua Ikatan Karyawan Timah (IKT), Riki Febriansyah, menegaskan bahwa pekerja merupakan kekuatan utama sekaligus mitra strategis perusahaan.
“Tidak ada perusahaan tanpa pekerja, dan tidak ada pekerja tanpa perusahaan. Keduanya harus berjalan beriringan,” katanya.
Ia menilai hubungan antara serikat pekerja dan manajemen di PT TIMAH saat ini menunjukkan tren positif. Komunikasi yang terbuka menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai dinamika di lapangan.
IKT juga mendorong optimalisasi forum LKS Bipartit sebagai ruang dialog rutin antara manajemen dan pekerja, tidak hanya untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga untuk memperbaiki tata kelola perusahaan.
Senada, Ketua Persatuan Karyawan Timah (PKT), Ahmad Tarmizi, menyebut hubungan harmonis ini sebagai modal penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan kesejahteraan karyawan.
“Kesejahteraan karyawan tidak bisa dilepaskan dari kinerja perusahaan. Karena itu, kami juga mendukung pencapaian target perusahaan agar manfaatnya bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Baik manajemen maupun serikat pekerja sepakat, harmonisasi yang telah terbangun harus terus dijaga melalui kepercayaan, transparansi, dan komitmen bersama. Momentum Hari Buruh pun menjadi titik refleksi sekaligus penguat semangat kebersamaan untuk menghadapi tantangan ke depan. (*)

