Kepercayaan Itu Mahal: Kapolda Babel Tekankan Sinergi Pers dan Polri Melawan Hoaks

PANGKALPINANG — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bangka Belitung, Irjen Pol. Dr. Viktor Theodorus Sihombing, menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan aset paling berharga yang harus dijaga bersama, terutama di tengah derasnya arus informasi digital saat ini.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar dan Dialog Publik, Rabu (6/5/2026), saat menyoroti pentingnya sinergi antara kepolisian dan insan pers dalam menjaga stabilitas serta keamanan daerah.

“Kepercayaan itu mahal. Sekali rusak, butuh waktu lama untuk memulihkannya,” tegas Viktor.

Menurutnya, hubungan antara Polri dan media bukan sekadar kemitraan biasa, melainkan kolaborasi strategis yang saling membutuhkan. Ia menilai, peran pers sangat vital dalam menyampaikan informasi yang akurat dan membangun, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Polri butuh pers, dan pers juga butuh kita. Pada akhirnya, masyarakatlah yang paling diuntungkan,” ujarnya.

Kapolda juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah maraknya disinformasi dan hoaks yang dapat memicu keresahan sosial serta merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Oleh karena itu, ia mendorong insan pers untuk tetap mengedepankan profesionalisme dalam setiap pemberitaan.

Baca Juga  Pemprov dan Kabupaten Kota di Babel Terima Predikat WTP LKPD 2020

“Kritik itu boleh, tapi harus konstruktif, bukan narasi yang menghancurkan, melainkan yang membangun daerah kita,” katanya.

Ia menambahkan, jurnalisme profesional harus mampu menyuarakan kebenaran, menjalankan fungsi kontrol sosial, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Viktor juga mengingatkan tiga tugas utama Polri, yakni menjaga keamanan dan ketertiban, memberikan perlindungan serta pengayoman, dan menegakkan hukum. Namun, menurutnya, tugas tersebut tidak dapat dijalankan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak.

“Dibutuhkan kolaborasi dengan semua elemen, termasuk pers sebagai perpanjangan tangan informasi kepada publik,” jelasnya.

Sebelumnya, Kapolda Babel juga dikenal aktif turun langsung memastikan keamanan masyarakat dalam berbagai kegiatan besar di daerah, sebagai bagian dari komitmen menjaga situasi tetap kondusif.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesamaan persepsi antara aparat penegak hukum dan media dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat, berimbang, dan terpercaya.

Baca Juga  Didampingi Kejagung, PT Timah Terapkan Tata Kelola Kemitraan Baru

Sementara Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto menegaskan bahwa profesionalisme menjadi kunci utama dalam dunia jurnalistik, terutama di tengah derasnya arus informasi digital saat ini. Menurut Toto ada dua fondasi utama profesionalisme jurnalis yakni kompetensi dan kepatuhan terhadap aturan.

Menurutnya, seorang jurnalis profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keahlian dalam menggali, mengolah, dan menyajikan informasi secara akurat dan berimbang.

“Profesional itu salah satunya adalah jurnalis memiliki keahlian, potensi, dan kompetensi dalam mencari serta mengolah informasi,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar jurnalis tidak terjebak pada praktik instan, seperti sekadar menyalin siaran pers tanpa proses verifikasi.

“Jangan sampai hanya copy-paste rilis. Itu bukan kerja jurnalistik yang baik,” tegasnya.

Selain kemampuan teknis, Totok menekankan pentingnya memahami dan menjalankan kode etik jurnalistik serta berbagai regulasi yang berlaku. Ia menyinggung sejumlah pedoman penting, termasuk pemberitaan isu sensitif seperti anak dan penyandang disabilitas.

Baca Juga  PT Timah Gelar Webinar Keselamatan Pertambangan

Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, terutama dari media sosial dan influencer.

“Tidak semua informasi di media sosial bisa dipercaya. Masyarakat harus lebih cermat,” katanya.

Totok menambahkan, keberadaan media yang telah terverifikasi menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kredibilitas informasi. Media yang jelas legalitas dan standar kerjanya dinilai lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga mengingatkan jurnalis untuk tetap menghormati aturan di lapangan, termasuk batasan dalam meliput di institusi tertentu.

“Tidak semua ruang bisa dimasuki sembarangan. Jurnalis harus memahami dan menghormati aturan yang berlaku,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Totok berharap insan pers terus meningkatkan kualitas dan profesionalismenya, sehingga mampu menghadirkan informasi yang akurat, mendidik, dan bermanfaat bagi publik. (*)