Catatan: Fakhruddin Halim
SEJUMLAH pemimpin redaksi media massa bertemu dengan Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung di Gedung Mahligai, Rumah Dinas Gubernur, Rabu malam, 31 Mei 2021.
Dalam persamuhan yang berlangsung selama dua jam lebih itu, Suganda membahas soal program Gule Kabung.
Gule Kabung, menurut Suganda adalah akronim dari “Gubernur Langsung Eksekusi Kerja Bersama Membangun Bangka Belitung”.
Suganda menggagas program ini untuk mewujudkan 5 agenda prioritasnya, yaitu pertama percepatan penurunan angka
stunting, kedua pengentasan kemiskinan, ketiga pengendalian inflasi.
Kemudian, keempat melanjutkan program strategis yang telah dijalankan oleh kepala daerah sebelumnya serta mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih dibutuhkan kerja bersama, kelima turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi secara riil.

Tiga program ini merupakan instruksi dari pemerintah pusat. Sementara dua dari 5 program terakhir adalah murni gagasan untuk mewujudkan suksesnya selutuh pembangunan di Babel.
Sejak Gule Kabung diluncurkan, Suganda mengaku sangat efektif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pada tataran aksi di lapangan. Sebab, hambatan-hambatan birokrasi dan sumbatan-sumbatan informasi dapat teratasi dengan baik.
Selain efektif, Suganda mengaku sangat efisien. Dia menolak keras jika ada yang beranggapan kalau turunnya dia ke lapangan dianggap sebagai bentuk pemborosan.
“Utamanya tidak menghambur-hamburkan anggaran,” kata Suganda.

Suganda mencontohkan melalui program ini dia bersama Forkopimda dan stakeholder terkait akan menginap langsung ke desa, atau kelurahan di kabupaten kota untuk mendengar aspirasi secara langsung dari masyarakat, dan langsung menjawab solusi apa saja sebagai tindak-lanjut dari aspirasi masyarakat tersebut.
“Disamping itu, stakeholder tersebut akan jemput bola memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, misalnya dari kepolisian akan menggelar pelayanan SIM keliling, Bakuda dengan Samsat Setempoh, dan lain sebagainya. Termasuk nanti KPU kita ajak untuk ikut menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pemilih cerdas dalam Pemilu,” katanya.
Selain itu, sejumlah persoalan yang selama kurang mendapat perhatian, ternyata di lapangan bisa diketahui. Suganda mencontohkan di salah satu kecamatan jumlah anak anak yang mengalami stunting mencapai 300-an orang.
“Kita bisa mrmbayangkan bagaimana generasi Bangka Belitung ke depan jika tidak segera ditangani,” ujar Suganda.
Selain itu, pendidikan juga masih menjadi persoalan serius bagi Bangka Belitung. Saat ini Angka Partisipasi Kasar atau APK hanya 8,11.
“Kita secara nasional nomor dua dari bawah. Nah ini data ril, kita mulai dengan kejujuran, tidak ada dusta di antara kita,” kata Suganda.
Untuk menyelesaikan sejumlah persoalan, Suganda mengajak siapa saja bergandengan tangan. Memulai dengan kebersamaan. Termasuk Suganda mendorong BUMN dan perusahaan swasta untuk membantu melalui program CSR masing-masing.
“Sepeser pun saya tidak minta, tapi ayo bantu untuk mrngatasi persoalan masyarakat melalui CSR,” kata Suganda.
Selain itu, Suganda juga mengungkapkan soal inflasi. Menurutnya sejumlah faktor penyebab terjadinya inflasi sering berubah. Makanya penanganannya berbeda.
Dia mencontohkan dua bulan terakhir faktornya antara lain sebanyak 60 persen dipicu sektor transportasi. Menyusul listrik, perumahan dan lainnya.
“Makanya kita upayakan mengatasi persoalan transportasi. Seperti harga tiket pesawat dan keluar masuk arus kapal laut. Makanya, waktu lebaran arus kendaraan yang yang menggunakan kapal laut lancar, tidak ada antrian seperti sebelumnya. Nah ini upaya kita, saya bicaraian dengan Gubernur Sumsel dan pihak terkait lainnya,” papar Suganda.
Berita Positif
Selain itu, Suganda menyinggung soal pentingnya pemberitaan positif oleh media massa untuk mendukung kondusifitas. Selain itu, berita positif pasti mrncerdaskan masyarakat.
Hal ini penting, sebab suasana kondusif akan mendukung kondusifnya iklim investasi. Termasuk, turunnya dana pemerintah pusat melalui sejumlah program pembangunan untuk daerah.
“Saya tetap terima kritik dan masukan, asalkan bukan berita hoaks karena akan memecah belah bangsa ini. Kita membutuhkan suasana yang kondusif agar para investor yakin berinvestasi di sini (Babel),” kata Suganda.
Sarat Makna Filosofis
Menurut Suganda, dipilihnya nama Gule Kabung sebagai nama programnya, bukan tanpa alasan.
Gule Kabung sarat dengan makna filosofis, kultural, lingkungan dan ekonomis.
Secara filosofis, pohon aren atau dalam bahasa Babel, kabung yang memproduksi gule (gula) kabung bermakna kehidupan, kokoh dan harmonisasi.
Pohon gabung yang merupakan warisan leluhur bisa tumbuh dengan baik di Babel dan warisan leluhur secara turun-temurun. Masyarakat sudah mengenalnya dengan baik.
Kabung bisa tumbuh subur dan tidak menganggunggu lingkungan atau merusak lingkungan.
Mulai dari akar, batang, buah, ijuk, daun hingga air nira yang bisa diprokduksi dari pohon kabung, bermanfaat bagi manusia. Bisa untuk pengobatan, untuk berbagai keperluan dan memiliki nilai ekonomis.
Buah kabung berupa beluluk atau kollang kaling bisa dikonsumsi dan bernilai ekonomis. Begitu pula dengan air nira yang diolah menjadi gule kabung atau olahan lainnya.
Saat ini gula kabung telah dijadikan berbagai varian olahan untuk ptoduk makanan. Termasuk gula kabung dipakai di srjumlah restoran dan hotel sebagai pilihan alternatif untuk kebutuhan gula pengunjung.
“Semua ini kuncinya adalah kejujuran, ketulusan, keterbukaan dan kerjasama yang erat dan mari kita bergandengan tangan membangun Bangka Belitung yang luar biasa dan moderen,” kata Suganda. (*)

