Boros ke Investor, Ini Cara Gen Z Bangka Melawan Jebakan Finansial Digital

Oleh: Adelia Sridevi

Mahasiswa Bisnis digital FE dan Bisnis UBB

Di sebuah kafe di Pangkalpinang, pemandangan ini semakin lazim, mahasiswa memamerkan gawai terbaru hasil pinjaman online, tanpa benar-benar memahami total cicilan yang harus dibayar. “Yang penting bisa dicicil,” katanya ringan. Kalimat sederhana ini menggambarkan realitas yang lebih besar—kemudahan akses finansial tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai.

Inilah paradoks Generasi Z. Mereka tumbuh bersama teknologi, cepat beradaptasi dengan aplikasi dan platform digital, namun belum sepenuhnya siap mengelola keuangan. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan literasi keuangan usia 18–25 tahun masih tertinggal dibanding kelompok usia lain. Artinya, di tengah derasnya akses digital, banyak anak muda berjalan tanpa peta finansial yang jelas.

Fenomena ini diperparah oleh budaya YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out). Tren di media sosial sering kali menjadi pemicu keputusan impulsif—mulai dari membeli barang viral hingga mencoba investasi tanpa pemahaman. Pinjaman online pun menjadi “jalan pintas” yang tampak mudah, namun berisiko menjerat.

Baca Juga  Pecut Sakti Jenghis Khan

Cerita Gen Z tidak berhenti di sana

Di balik tantangan tersebut, teknologi justru membuka peluang besar untuk perubahan. Platform investasi digital seperti Bibit, Ajaib, Pluang, hingga Bareksa kini menjadi pintu masuk baru bagi anak muda ke dunia keuangan. Dengan modal kecil dan proses cepat, investasi yang dulu terasa eksklusif kini menjadi inklusif.

Reksa dana, emas digital, hingga Surat Berharga Negara (SBN) ritel semakin populer di kalangan Gen Z. Bahkan saham yang dulu dianggap “berisiko tinggi” kini mulai dipelajari dengan pendekatan yang lebih rasional. Bukan lagi sekadar ikut-ikutan tren, tetapi sebagai bagian dari strategi membangun masa depan.

Baca Juga  Membentuk Karakter Wirausaha Yang Kuat Dalam Proses Pembelajaran di Sekolah

Lebih dari itu, ekosistem edukasi keuangan juga berkembang pesat. Konten kreator di TikTok dan YouTube, komunitas investor, hingga forum diskusi digital menjadi “kelas finansial” baru yang mudah diakses. Bahasa yang ringan dan relevan membuat konsep keuangan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hasilnya mulai terlihat. Data pasar modal menunjukkan mayoritas investor baru berasal dari generasi muda. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan tanda pergeseran pola pikir. Dari konsumtif menuju produktif. Dari pembelanja menjadi pemilik aset.

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting. Saat aktivitas terbatas, banyak anak muda mulai mengeksplorasi cara baru mengelola uang. Investasi yang awalnya hanya coba-coba, perlahan menjadi kebiasaan. Dari sinilah kesadaran finansial mulai tumbuh.

Meski begitu, tantangan tetap ada. FOMO dalam investasi, maraknya aset spekulatif, hingga gaya hidup konsumtif masih menjadi ancaman nyata. Literasi keuangan yang belum merata juga menjadi pekerjaan rumah bersama.

Baca Juga  LBH DPP Baranusa Gugat Peraturan BP2MI No 214 tahun 2021 Karena Membebankan Hutang Kepada PMI

Namun satu hal yang patut diapresiasi, arah perubahan sudah terlihat jelas.

Ketika seorang mahasiswa di Bangka Belitung mulai menyisihkan Rp50.000 untuk investasi, itu bukan sekadar angka kecil. Itu adalah simbol perubahan cara berpikir—bahwa masa depan tidak hanya direncanakan, tetapi juga dipersiapkan.

Generasi Z mungkin pernah terjebak dalam budaya “cicilan dulu, pikir nanti”. Tapi kini, perlahan mereka membuktikan diri mampu bertransformasi. Dengan teknologi sebagai alat, mereka belajar menjadi lebih bijak, lebih sadar, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Dari boros ke investor—ini bukan sekadar tren. Ini adalah revolusi finansial generasi muda. Dan Bangka Belitung, tampaknya, tidak ingin tertinggal dalam gelombang perubahan ini. (*)