Catatan Fakhruddin Halim
Minggu, 21 Agustus 2022
MENJELANG pukul 23.00 Wib, Sabtu, melalui pesan WastApp Ketua PWI Provonsi Kepulauan Bangka Belitung, Mohammad Fathurrakhman mengingatkan undangan peletakan batu pertama pembangunan SMP dan SMA Al-Azhar Pangkalpinang, di Jalan Fatmawati, Kampak, Pangkalpinang, Minggu, 21 Agustus 2022.
Sekolah Al Azhar Pangkalpinang adalah cabang dari Al Azhar Jakarta. Pengundangnya adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan yang menaungi Al Azhar Pangkalpinang, yang juga Ketua Dewan Penasehat PWI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, SE.
Pagi itu, Minggu, pukul 09.00 Wib, tenda memanjang yang dipasang di lokasi tampak sesak. Sejumlah panitia terpaksa berdiri karena tak kebagian kursi.
Hujan rintik-rintik tak menghalangi aktivitas pagi itu. Sejumlah tamu yang disebutkan pembawa acara yang hadir Yunan Helmi mewakili Pj Gubernur Ridwan Djamaluddin yang bethalangan hadir karena ke Belitung mendampingi Menteri Bappenas persiapan agenda G20.
Hadir pula Emron Pangkapi, salah satu tokoh sentral pendiri Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari sejumlah tulisannya, ia menggunakan KBB akronim Kepulauan Bangka Belitung. Saya juga ikut menggunakan singkatan ini.
Emron menjadi Ketua DPRD KBB pertama. Selepas itu ia lebih banyak di Jakarta berkiprah di Dewan Pimpinan Pusat PPP.
Selain itu hadir Bupati Bangka Tengah Algafri Rahman dan Anggota DPR RI yang juga Ketua DPD Golkar KBB Bambang Patijaya (BPJ).
Ketua Pesantren Al Azhar (YPAI) Budiono, juga hadir. Dia menceritakan proses hadirnya lembaga pendidikan Al Azhar di Kota Pangkalpinang.
“Sekitar tiga tahun lalu, Bapak Hidayat Arsani dan istri menghadap kami di Jakarta. Beliau mengutarakan niatnya agar ada lembaga pendidilan Al Azhar di Pangkalpinang,” ujarnya.
Tim Al Azhar pun datang untuk melakukan survey atau studi kelayakan. Hasilnya, berdirilah TK dan SD Al Azhar yang menempati rumah pribadi Hidayat Arsani di Kampak. Hidayat sekeluarga pun rela pindah ke rumah dekat Bandara Depati Amir, yang hingga kini ditempati.
Hidayat menyebutkan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan sekolah di atas lahan seluas dua hektar itu adalah hadiah ulang tahunnya ke-59.
“Hari ini, lima puluh sembilan tahun lalu saya lahir. Lalu saya diletakkan di dekat tempat sampah bersama dua helai handuk dan dua botol susu di Rumah Sakit Bhakti Timah, Pangkalpinang. Saya diangkat menjadi anak oleh pasangan Muhaya dan Arsani. Saya buat dua rumah sakit, satu saya beri nama Arsani, satu lagi Muhaya,” katanya.
Untuk membangun SMP dan SMA ini, setidaknya membutuhkan dana sebesar Rp15 milyar. Pembangunannya ditargetkan rampung dua tahun.
Selain itu, Hidayat juga berencana membangun Pondok Pesantren terbesar di Provinsi KBB.
Apakah sudah selesai? Ternyata tidak. Hidayat mengatakan ingin terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat luas.”
Dalam waktu dekat, ia akan memulai penanaman cabai di atas lahan seluas 100 hektar. Untuk mendukung program itu, setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp20 milyar.
Artinya perhektar butuh sekitar Rp200 juta. Ia memang bukan sarjana pertanian. Ia sadar betul kalau punya kelemahan dalam hal pertanian.
Tapi justru kejujurannya mengakui kelemahan, membuat Hidayat harus mengakui keunggulan orang lain. Ia membangun kolaborasi.
“Saya mengajak ahli-ahli dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Saya sedih mendengar harga cabai sampai Rp200 ribu perkilogram. Tidak mungkin kita diam, atau hanya cukup berkomentar. Kita butuh tindakan nyata!” ujarnya.
Hidayat telah melalui kehidupan yang penuh warna. Merasakan kepahitan yang barangkali paling pahit. Kini, dia punya segalanya. Harta yang berlimpah, keluarga dan anak-anak.
Dia ingin menggunakan hartanya itu untuk kebaikan. Untuk kemaslahatan ummat dan masyarakat secara luas. Dia ingin menggunakan hartanya di jalan kebaikan. Kalaupun Allah Swt. mentakdirkan dia wafat, Hidayat ingin wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Setiap manusia pasti punya masa lalu. Tapi, setiap manusia pasti selalu bergerak kearah perubahan. Capaian perubahan setiap manusia tidak sama. Ada yang secara revolusioner, ada pula yang evolutif. Maka lihatlah manusia itu hari ini.
Hidayat sempat menduduki kursi Wakil Gunernur KBB. Saat itu pula ia menyelesaikan SI Ekonomi di STIE IBEK Pangkalpinang. Kawan satu kelasnya pernah menceritakan dia cukup rajin hadir kuliah. Tak ubahnya mahasiswa lainnya. Ia tak canggung.
Juga ikut ujian persis seperti mahasiswa lainnya, meski dari sisi usia berbeda jauh dengan mahasiswa lainnya. Selain itu wakil gubernur. Ia cukup egaliter.
Hidayat tak begitu suka formalitas. Dia orator ulung. Bisa berjam-jam berpidato tanpa teks dan tidak menjemukan. Bahasanya sederhana, terkesan ceplas-ceplos. Tapi faktual, segar dan masuk akal.
Gaya bahasa yang spontan itu, terkadang membuat orang yang mendengarnya bisa terpingkal-pingkal. Maka tak heran giliran dia memegang mickrofon dalam satu forum atau acara sangat ditunggu-tunggu.
Sama halnya, orangpun bertanya-tanya, menunggu-nunggu setelah sejumlah bisnis, media, hotel, rumah sakit, tambak udang, pohon aren, sekolah, cabai: setelah ini…apalagi? (*)


