JAKARTA – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan cukup berat. Sepanjang perdagangan 9–13 Maret 2026, aktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mengalami penurunan signifikan, baik dari sisi frekuensi transaksi, nilai perdagangan, hingga volume saham yang diperdagangkan.
Berdasarkan data perdagangan sepekan terakhir, rata-rata frekuensi transaksi harian hanya mencapai 1,87 juta kali. Angka tersebut merosot tajam sekitar 31,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada di level 2,73 juta transaksi per hari.
Kelesuan aktivitas pasar juga tercermin dari nilai transaksi harian. Rata-rata nilai transaksi (RNTH) hanya tercatat Rp17,2 triliun per hari, turun 31,1 persen dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp24,97 triliun.
Tidak hanya itu, volume perdagangan saham juga mengalami penurunan. Dalam sepekan terakhir, volume saham yang diperdagangkan tercatat sebesar 31,55 miliar saham per hari, atau turun sekitar 25,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 42,34 miliar saham per hari.
Kondisi tersebut sejalan dengan pelemahan indeks saham. Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.137. Posisi ini terkoreksi cukup dalam sebesar 5,91 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 7.585.
Penurunan IHSG turut menyeret kapitalisasi pasar di BEI. Nilai kapitalisasi pasar kini tercatat sebesar Rp12.678 triliun, atau menyusut sekitar Rp949 triliun, setara dengan penurunan 6,96 persen dalam waktu singkat.
Sentimen negatif pasar juga dipicu oleh aksi jual investor asing. Pada penutupan akhir pekan lalu, investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp117,17 miliar.
Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, total aksi jual bersih investor asing telah mencapai Rp8,85 triliun.
Sejumlah analis menilai kondisi pasar yang mendingin ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati. Investor diperkirakan akan memilih strategi wait and see menjelang libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri yang jatuh pada pekan ini.
Dengan berbagai sentimen yang masih membayangi, pergerakan IHSG pada perdagangan awal pekan ini diperkirakan masih menghadapi tekanan dan belum memiliki cukup tenaga untuk bangkit secara signifikan. (**)


