PROVINSI Kepulauan Bangka Belitung menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Tiga destinasi ikonik ini menjadi bukti kuat keberagaman dan harmoni masyarakat: Kuburan Cina Sentosa, Masjid Raya Tua Tunu, dan Pagoda Vihara Puri Tri Agung.
Kuburan Cina Sentosa, Jejak Sejarah Sejak 1935
Terletak di Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang, Kuburan Cina Sentosa dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman Tionghoa terbesar dan tertua di kawasan ini. Berdiri sejak tahun 1935 di atas lahan sekitar 27 hektare, kompleks ini menjadi tempat peristirahatan ribuan leluhur, dengan jumlah makam mencapai lebih dari 12 ribu.
Menariknya, arsitektur setiap makam memiliki desain unik dengan ukiran dan tulisan aksara Tionghoa yang indah. Hal ini mencerminkan status sosial sekaligus penghormatan tinggi terhadap leluhur.
Setiap tahun, tradisi Ceng Beng (Qing Ming) selalu digelar pada awal April. Ribuan keluarga dari perantauan kembali untuk berziarah dan memberikan penghormatan kepada orang tua dan nenek moyang mereka. Tradisi ini menjadi simbol kuatnya nilai kekeluargaan dan budaya yang tetap terjaga hingga kini
Masjid Raya Tua Tunu, Pusat Peradaban Islam Modern
Di tengah perkampungan Tua Tunu Indah, Kecamatan Gerunggang, berdiri megah Masjid Raya Tua Tunu, masjid terbesar di Bangka Belitung. Diresmikan pada 20 Maret 2008, masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Kota Pangkalpinang.
Dengan perpaduan arsitektur modern dan tradisional, masjid ini dilengkapi berbagai fasilitas canggih seperti beduk elektrik dan akses internet. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Tua Tunu juga diharapkan menjadi pusat studi Islam dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Keberadaannya memperkuat identitas religius masyarakat sekaligus menjadi ikon baru Kota Pangkalpinang.
Pagoda Vihara Puri Tri Agung, Ikon Wisata Religi di Pantai Tikus
Berpindah ke Kabupaten Bangka, tepatnya di kawasan Pantai Tikus, Sungailiat, berdiri megah Pagoda Vihara Puri Tri Agung. Bangunan ini sering dijuluki sebagai “Pagoda Kuil Shaolin” oleh masyarakat sejak awal pembangunannya.
Setelah melalui proses pembangunan panjang selama lebih dari 12 tahun, vihara ini diresmikan pada 18 Januari 2015 oleh Menteri Agama dan Menteri Pariwisata. Hingga kini, kawasan ini terus dikembangkan untuk memperluas daya tarik wisata religi dan budaya.
Dari atas pagoda, pengunjung dapat menikmati panorama laut dan keindahan Pantai Tikus secara langsung. Interior yang mewah, arsitektur kokoh, serta pemandangan alam yang memukau menjadikan tempat ini salah satu destinasi wajib kunjung di Bangka Belitung.
Simbol Keberagaman dan Harmoni
Ketiga destinasi ini mencerminkan wajah Bangka Belitung sebagai daerah yang kaya budaya, religius, dan penuh toleransi. Dari tradisi leluhur, kemegahan masjid, hingga keindahan pagoda, semuanya hidup berdampingan dalam harmoni.
Bangka Belitung bukan hanya tentang tambang dan pantai tetapi juga tentang sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya yang kuat. (***)
Sumber : Badan Penghubung


