PANGKALPINANG – Pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) di Pangkalpinang menghadapi tantangan baru. Sebanyak 20 sekolah tercatat menolak mengikuti program yang digagas untuk meningkatkan gizi siswa tersebut.
Penolakan ini terungkap dari data terbaru Satgas Percepatan MBG Kota Pangkalpinang, yang juga mencatat masih adanya ketimpangan pelaksanaan program di lapangan.
Ketua Satgas MBG Pangkalpinang, Mie Go, mengatakan pihaknya telah melakukan verifikasi langsung ke sejumlah sekolah. Hasilnya, selain 103 sekolah yang belum terlayani, terdapat 20 sekolah yang secara tegas menolak program MBG.
“Memang ada sekolah yang belum terlayani, tapi ada juga yang menolak. Ini menjadi perhatian kami untuk segera ditindaklanjuti,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, sekolah-sekolah yang menolak program tersebut tersebar di beberapa wilayah, antara lain Kecamatan Gabek, Pangkalbalam, Girimaya, dan Rangkui.
Menurut Mie Go, penolakan ini bukan tanpa alasan. Oleh karena itu, Satgas MBG memilih untuk tidak mengambil langkah represif, melainkan mengedepankan pendekatan persuasif melalui sosialisasi yang lebih intensif.
“Kami akan terus melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman. Program ini bukan sekadar bantuan, tapi investasi penting bagi kesehatan dan masa depan anak-anak,” tegasnya.
Di sisi lain, hingga saat ini sebanyak 177 sekolah di Pangkalpinang telah merasakan manfaat Program MBG. Pemerintah daerah bersama Satgas pun terus berupaya memperluas jangkauan program agar dapat dirasakan secara merata.
Mie Go optimistis, dengan komunikasi yang baik dan dukungan semua pihak, sekolah-sekolah yang saat ini menolak dapat membuka diri dan ikut serta dalam program tersebut.
“Harapan kami, semua sekolah bisa menerima karena ini menyangkut pemenuhan gizi anak. Ke depan, kami ingin program ini benar-benar merata tanpa ada yang tertinggal,” pungkasnya. (*)


