Kabar Pemanggilan Prof. Udin Bernuansa Politik, Mehoa: Jangan Menggiring Opini Publik

SUARABANGKA.COM – Jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Ulang Kota Pangkalpinang 2025, aroma black campaign atau kampanye hitam mulai terendus. Tujuannya tidak lain untuk mendistorsi opini publik dan memberikan label negatif pada figur yang disasar.

Hal ini mulai dialami oleh Calon Wali Kota di Pilkada Ulang Kota Pangkalpinang 2025, Prof. Saparudin yang diusung PDI Perjuangan. Prof. Udin sempat dikabarkan akan dipanggil oleh Komisi II DPRD Babel terkait pertangungjawaban keuangan BUMD beberapa tahun silam. Namun anehnya dalam agenda Komisi II DPRD Babel (7/7/2025) tidak ditemukan adanya jadwal pemanggilan Prof Udin.

Hal ini kemudian memicu kritik keras dari dua Srikandi di DPRD Babel, Mehoa selaku Ketua Fraksi PDI Perjuangan dan Elvi Diana selaku Sekretaris Komisi II DPRD Babel. Keduanya beranggapan issu pemanggilan Prof Udin kental bernuansa politik.

Menurut Mehoa, Prof. Udin sudah lama mengundurkan diri dari jabatan Direktur BUMD Bumi Bangka Belitung Sejahtera (BBBS) sejak digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terakhir, dan posisinya telah digantikan oleh Plt. Suhardi, mantan akademisi.

Baca Juga  Tiba di Pangkalpinang, Pangdam II Sriwijaya Disuguhkan Makanan Ini

“Kalau orang paham aturan, harusnya tahu bahwa pengunduran diri Prof. Udin itu resmi, ada berita acaranya, bahkan ditandatangani langsung oleh gubernur saat itu. Jadi kalau ada yang mempersoalkan pertanggungjawaban, harusnya ditujukan ke pengelola saat ini. Jangan dipolitisasi apalagi menjelang Pilkada,” tegas Mehoa, Senin (7/7/2025).

Mehoa menyayangkan adanya pihak yang secara gegabah menyampaikan pernyataan atas nama lembaga padahal bersifat pribadi. Mehoa mengingatkan bahwa fungsi pengawasan DPRD tidak boleh dijadikan alat untuk menggiring opini publik tanpa dasar data dan fakta.

“Harus hati-hati, mana pernyataan yang keluar atas nama pribadi dan mana yang mewakili lembaga. Jangan sampai melecehkan integritas lembaga hanya karena kepentingan sesaat,”tegas mantan Ketua DPRD Bangka Tengah tersebut.

Menurut Mehoa, BUMD tidak menerima kucuran dana APBD secara langsung, sebagaimana yang ramai diberitakan. Justru, dana hibah yang dimaksud dalam program seperti “Berkah Mart” disalurkan melalui BUMDes, bukan langsung ke BBBS. Bahkan di desanya sendiri, Desa Jeruk, pernah menerima dana tersebut sesuai prosedur.

“Kalau memang ada distribusi barang ke BUMDes, lalu ada selisih barang yang belum dikirim, itu pun sudah diselesaikan dan diawasi langsung oleh Inspektorat dan Polda. Semua ada berita acara, jangan digiring seolah-olah ada pelanggaran besar tanpa data,” tambahnya.

Baca Juga  Pendaftaran Bacalon Ketua dan Bacalon Ketua DKP PWI Babel Resmi Dibuka

Sekretaris Komisi II DPRD Babel, Elvi Diana juga menyanggah keras isi pemberitaan yang menyebut adanya pemanggilan terhadap Prof. Udin pada rapat Komisi II Senin, 7 Juli 2025.

Menurutnya, agenda resmi komisi telah disepakati sebelumnya, dan sama sekali tidak mencantumkan nama Prof. Udin dalam pembahasan.

“Berita itu tidak benar. Kami di Komisi II tidak menjadwalkan pemanggilan Prof. Udin. Tidak ada keputusan lembaga ataupun rapat yang membahas hal itu. Mohon media juga jangan menyebarkan informasi yang belum diverifikasi,” ujar Elvi.

Adapun Agenda resmi Komisi II hari itu antara lain:

1. Evaluasi MoU Bank Sumsel Babel dengan Pemprov Babel.

2. Evaluasi kinerja Jamkrida sebagai mitra strategis daerah.

3. Pembahasan arah kebijakan seluruh BUMD, termasuk BBBS, secara umum.

Elvi Diana pun menegaskan bahwa tidak ada unsur politis dalam rapat maupun pengawasan yang dilakukan Komisi II. Pihaknya berkomitmen untuk tetap menjaga netralitas menjelang Pilkada ulang dan fokus pada penguatan fungsi pengawasan lembaga secara proporsional.

Baca Juga  Pj Gubernur Safrizal Serahkan Bantuan 19 Kaki Palsu dari AP II

Dalam kesempatan ini, Mehoa maupun Elvi Diana juga mengimbau media agar tetap berpegang pada prinsip jurnalistik yang adil, faktual, dan berimbang, serta tidak terjebak dalam narasi yang tidak berdasar.

Keduanya mengajak masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu-isu yang tidak jelas sumber dan faktanya. Mereka juga berharap agar seluruh proses politik, termasuk Pilkada, bisa berjalan damai, demokratis, dan penuh edukasi bagi masyarakat.

Menutup pernyataan, baik Ce Mehoa maupun Elvi Diana menegaskan bahwa dalam momentum Pilkada Ulang Kota Pangkalpinang 2025, mereka tetap bersikap netral dan menjunjung etika kelembagaan sebagai wakil rakyat.

Mereka percaya bahwa setiap calon kepala daerah yang maju memiliki kapasitas, integritas, dan visi masing-masing dalam membangun Kota Pangkalpinang.

Mereka juga berharap masyarakat dapat menyambut proses demokrasi ini dengan bijak dan dewasa, tanpa terpengaruh oleh isu-isu yang tidak berdasar. (wah)