Catatan Fakhruddin Halim
Satu waktu, seorang sahabat menelepon berkali-kali, karena suara gaduh dan bisingnya kendaraan yang lalu lalang di jalanan ibu kota, saya tidak mendengar nada panggilan itu.
Setelah kembali ke hotel bintang empat yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari tempat saya tadi, baru saya ketahui ada panggilan masuk.
Rupanya kawan yang baik hati itu tidak melihat saya sewaktu jam makan tiba di ruangan makan hotel. Dia khawatir saya kembali ke kamar, lalu tertidur. Maklum agenda kegiatan cukup padat bahkan lewat tengah malam.
Kepada kawan tadi saya sampaikan sewaktu dia menelepon saya lagi makan di kerumunan gerobak kaki lima ibu kota.
Pantasan kata kawan tadi, beberapa kali waktu makan dia tidak melihat saya. Dia pun menanyakan alasan mengapa tidak makan di hotel? Padahal sudah disiapkan dan tentu saja: gratis.
Saya sampaikan lidah saya lidah orang kampung, saya juga merasa “terintimidasi” dengan segala keformalan dan kelazimannya. Kesan feodal tak dapat dihindari.
Saya begitu menikmati kopi panas dari dalam cangkir dituangkan ke piring kecil, tunggu beberapa saat, dihirup.
Di kaki lima ini lazim, di restoran hotel barangkali akan lain jadinya. Sebab, memang tidak lazim.
Di Kaki Lima saya merasa lebih merdeka, saya bisa bertemu jengkol, petai, ceker ayam, ikan teri, sambal pare, sambal bawang super pedas sehingga keringat bercucuran dan aneka makanan buatan tangan rakyat biasa yang dibuat tidak menggunakan kaidah restoran.
Makanan diolah bukan karena mereka adalah para chef yang berpendidikan khusus, tapi karena pengharapan akan bisa menafkahi keluarga.
Aroma perjuangan dan olahan ketulusan itulah yang membuat makanan yang sederhana itu, ditempat sederhana itu dan orang-orang sederhana itu terasa lebih nikmat, mengenyangkan.
Meski demikian, saya katakan pada teman tadi, satu dua kali saya makan juga makanan hotel karena terdesak, termasuk oleh waktu istirahat yang singkat.
Ini tidak perlu ditafsirkan soal anti makanan restoran mahal, apalagi dipolitisir menjadi bola liar laksana sodokan bola billiar.
Biasa saja, ini bentuk kemerdekaan berpikir, bersikap dan tentu saja soal keberpihakan.
Selain itu, ini soal selera. Saya menikmati melahap makanan di kaki lima. (*)

