OJK Babel Soroti Lonjakan Pinjol sebagai Sinyal Tekanan Ekonomi

Investor Masih Wait and See

PANGKALPINANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebut iklim investasi di daerah mulai berangsur stabil setelah tertekan pada awal 2026. Namun, belum pulihnya kepercayaan investor dan meningkatnya transaksi pinjaman online (pinjol) menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi masyarakat masih perlu diwaspadai.

Kepala OJK Bangka Belitung, Eko Wijaya, mengatakan aktivitas investasi mengalami penurunan cukup tajam sejak kuartal pertama hingga sekitar Mei 2026.

Memasuki pertengahan tahun, kondisi mulai membaik, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong investor kembali agresif menanamkan modal.

“Kalau kita lihat dari kuartal pertama sampai sekitar Mei itu turunnya cukup jauh. Sekarang sudah mulai stabil, tetapi belum ada perubahan yang signifikan. Investor masih cenderung wait and see atau menunggu sinyal pertumbuhan yang baru,” kata Eko, Senin (27/7/2026).

Baca Juga  Demi Debitur, Perusahaan Pembiayaan Gelontorkan Rp200 Triliun Untuk Restrukturisasi Kredit

Di sisi lain, OJK mencermati meningkatnya nilai transaksi peer-to-peer lending atau pinjaman daring. Menurut Eko, tren tersebut patut menjadi perhatian karena berpotensi mencerminkan semakin banyak masyarakat yang membutuhkan dana dalam kondisi mendesak.

Meski nilai transaksi pinjol meningkat, jumlah peminjam justru menurun dibandingkan periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola pinjaman yang masih terus dipantau OJK.

“Biasanya kalau penggunaan pinjol meningkat, itu menjadi indikasi masyarakat sedang mengalami tekanan ekonomi atau kepepet membutuhkan uang. Ini memang baru indikasi awal, tetapi harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Baca Juga  Kisah Dewi Membesarkan Rizky Parfume Bersama PT TIMAH

Eko juga menyoroti keterkaitan antara pinjol dan maraknya praktik judi online. Menurutnya, tidak sedikit masyarakat yang terjebak meminjam uang setelah mengalami kerugian akibat aktivitas judi daring.

“Sering kali siklusnya seperti itu. Uang habis karena judi online, kemudian beralih ke pinjol untuk menutup kebutuhan. Karena itu literasi keuangan harus diperkuat sejak dini,” katanya.

Untuk menekan risiko tersebut, OJK terus menggencarkan edukasi keuangan kepada pelajar dan mahasiswa. Bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), OJK juga membuka galeri investasi di sekolah dan perguruan tinggi guna mengenalkan instrumen investasi yang legal sekaligus membangun budaya investasi sejak usia muda.

Program literasi dan inklusi keuangan juga diperluas kepada kelompok masyarakat seperti nelayan, penyandang disabilitas, dan kalangan pesantren agar semakin banyak masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan yang sehat dan aman.

Baca Juga  DPRD Babel Sahkan RAPBD Perubahan TA 2021

Selain itu, OJK Bangka Belitung berencana menggelar pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui pembuatan terasi terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada September atau Oktober 2026 di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana promosi untuk meningkatkan popularitas sekaligus permintaan terhadap terasi khas Bangka Belitung di pasar nasional.

“Harapannya produk terasi Bangka Belitung semakin dikenal secara nasional dan permintaannya meningkat. Kualitasnya juga tidak kalah dengan terasi dari daerah lain,” ujar Eko. (wah)