Ekonomi Belitung Tumbuh 4,06 Persen Sepanjang 2025, Tertinggi Ketiga Se-Babel

Pertanian dan Industri Jadi Mesin Ekonomi

BELITUNG — Perekonomian Kabupaten Belitung menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat sepanjang 2025. Setelah sempat melambat tajam pada 2024, ekonomi daerah berjuluk Negeri Laskar Pelangi itu kembali Naik dengan pertumbuhan mencapai 4,06 persen.

Angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi Belitung dalam lima tahun terakhir sekaligus menempatkannya sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Data dalam LHP BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Belitung per 31 Desember 2025 mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) meningkat dari Rp14,12 triliun pada 2024 menjadi Rp15,24 triliun pada 2025.

Sementara PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) naik dari Rp7,64 triliun menjadi Rp7,95 triliun.

Kinerja tersebut menjadi kontras dengan kondisi 2024. Saat itu pertumbuhan ekonomi Belitung hanya mencapai 1,85 persen, turun drastis dibandingkan 2023 yang masih berada di angka 5,74 persen.

Pertanian & Industri Jadi Mesin Ekonomi

Baca Juga  PT TIMAH dan Kelompok Tani Belitung Kembangkan Pertanian Jagung di Lahan Pasca Tambang

Jika dibedah berdasarkan lapangan usaha, struktur ekonomi Belitung masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam dan aktivitas produksi.

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 27,10 persen terhadap perekonomian daerah. Di posisi berikutnya adalah Industri Pengolahan yang menyumbang 12,67 persen.

Besarnya kontribusi dua sektor tersebut menunjukkan bahwa denyut ekonomi Belitung masih sangat ditentukan oleh aktivitas pertanian, perikanan, kehutanan, serta kemampuan daerah mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah.

Kondisi geografis Belitung memang mendukung sektor tersebut. Kabupaten ini memiliki luas wilayah sekitar 2.269,36 kilometer persegi, dengan bentang kepulauan yang terdiri atas puluhan pulau besar dan kecil.

Wilayah Belitung juga memiliki garis pantai dan potensi laut yang menjadi modal penting bagi pengembangan perikanan sekaligus pariwisata.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,06 persen belum otomatis berarti seluruh masyarakat menikmati peningkatan kesejahteraan dalam porsi yang sama.

Inflasi Turun, Harga Makanan Justru Menekan

Baca Juga  PT Timah Tancap Gas Majukan UMKM, 9.000 Pelaku Usaha Sudah Terbantu

Di sisi lain, tekanan inflasi di Tanjungpandan relatif terkendali. Inflasi tahunan pada 2025 tercatat 1,44 persen, turun dibandingkan 2024 yang mencapai 1,68 persen.

Bahkan angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan inflasi 2023 yang mencapai 3,80 persen.

Tetapi ada satu catatan yang patut diperhatikan: kelompok makanan, minuman dan tembakau justru mengalami inflasi sebesar 4,68 persen pada 2025.

Artinya, meskipun inflasi umum berhasil ditekan, kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masih mengalami tekanan harga yang cukup besar. Di sinilah tantangan pemerintah daerah menjadi lebih kompleks.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 4,06 persen harus mampu diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, serta harga kebutuhan pokok yang tetap terjangkau. Sebab, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.

Belitung Punya Modal Besar, Tantangannya Nilai Tambah. Dengan posisi geografis strategis dan potensi pertanian, perikanan, pariwisata serta industri pengolahan, Belitung memiliki modal ekonomi yang cukup besar.

Baca Juga  Rasio Desa Belistrik Mencapai 99,78 Persen

Namun, ketergantungan pada sektor primer juga menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperbesar nilai tambah melalui industri pengolahan dan hilirisasi.

Jika hasil pertanian dan perikanan hanya dijual sebagai bahan mentah, maka nilai ekonomi terbesar berpotensi dinikmati di luar daerah.

Sebaliknya, jika produksi lokal mampu diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi, rantai ekonomi akan menjadi lebih panjang dan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat Belitung.

Karena itu, angka pertumbuhan 4,06 persen seharusnya tidak berhenti sebagai kabar baik di atas kertas.

Pertumbuhan tersebut harus menjadi momentum untuk memastikan ekonomi Belitung semakin kuat, lapangan kerja bertambah, investasi tumbuh, dan yang paling penting, kesejahteraan masyarakat benar-benar ikut naik.

Belitung boleh tumbuh. Tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu terasa sampai ke meja makan masyarakat. (wah)