JAKARTA – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyoroti adanya pola teror berulang yang menyasar kelompok kritis di Indonesia. Sasaran serangan disebut mencakup aktivis, jurnalis, hingga organisasi masyarakat sipil.
Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi yang digelar Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita pada Rabu (18/3/2026).
Menurut Isnur, berbagai kasus kekerasan yang terjadi belakangan ini belum terungkap secara tuntas dan menunjukkan pola yang berulang.
“Serangan kepada kelompok-kelompok yang kritis, kepada yang sedang berjuang, dari mana pun asalnya. Serangan sebelumnya datang ke Tempo, kepada influencer, FSPMI di Jogja, bom molotov kepada Jubi di Papua, hingga pembakaran rumah wartawan di Karo,” paparnya.
Ia juga menyoroti maraknya kriminalisasi terhadap kelompok muda, khususnya saat gelombang aksi demonstrasi pada Agustus lalu.
“Termasuk kriminalisasi dan pemenjaraan terhadap kelompok-kelompok muda yang pada Agustus kemarin jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Isnur menilai berbagai peristiwa tersebut mencerminkan adanya pergeseran peran negara dalam relasinya dengan masyarakat. Negara yang semestinya melindungi justru dinilai memunculkan rasa takut.
“Negara bukan lagi aktor yang melindungi, mengayomi, dan menjaga rakyatnya, tetapi menjadi aktor yang justru menyakiti,” tegasnya.
Terbaru, aksi teror juga menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus, yang disiram air keras pada Kamis malam (12/3/2026).
Kasus ini tengah ditangani Polda Metro Jaya yang telah mengidentifikasi dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK.
Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia turut melakukan penyelidikan internal dengan menahan empat anggota Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma BAIS) yang diduga terlibat.
Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran publik terhadap keamanan kelompok kritis dan kebebasan sipil di Indonesia. (**)


