Ketika Kisah Cinta Masih Tersimpan di Email

Bicara cinta, tidak akan pernah ada habisnya. Selalu saja ada cerita baru, menarik, inspiratif, tidak menjemukan, mengejutkan, mendebarkan, entah apalagi. Oleh karenanya ia selalu relevan di setiap zaman.

Cinta dituangkan dalam baris tulisan, jadilah puisi, novel dan bentuk karya sastra lainya.

Artikel yang disajikan di bawah ini, awalnya dishare di salah satu milis grup oleh salah seorang anggota grup, pada: 27/10/2010. Dimana saya ikut bergabung di dalam milis grup tersebut.

Memang ketika itu milis grup cukup banyak dan menjadi sarana komunikasi, edukasi yang cukup efektif. Saya pun nergabung dengan sejumlah milis grup, salah satunya milis grup jurnalisme yang kini bermigrasi ke WAGrup.

Nah, saya membuka-buka email dan rupanya masih tersimpan rapi artikel ini. Semoga bermanfaat. -Fakhruddin Halim-

“Andrea Hirata dan Kisah Cinta yang Tak Biasa”

Oleh: Hernowo

“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati.”

Syalimah seperti tak sanggup melanjutkan ceritanya.

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan, lalu tersenyum padaku.”

Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.”
–ANDREA HIRATA, Cinta di Dalam Gelas

Baca Juga  Menolak Kriminalisasi Nelayan Babel

Membaca bari-baris kata ciptaan Andrea, saya pun merenung dalam-dalam. Adakah cinta dalam keluarga saya? Atau, tepatnya, apakah saya berhasil dalam membagikan cinta saya kepada istri dan anak-anak saya? Cinta seperti apa yang ada dalam keluarga saya? Apa makna cinta itu bagi sebuah keluarga? Sempatkah saya memikirkan dan kemudian mewujudkannya di tengah impitan kehidupan yang kadang sangat sibuk dan menguras pikiran serta tenaga?

Bagi saya, Padang Bulan dan—lebih-lebih lagi—Cinta di Dalam Gelas yang terbit secara bersamaan ini berkisah secara fasih tentang cinta yang sangat indah. Saya sulit melukiskan keindahan cinta itu karena Andrea mengambil sudut yang tak lazim—sebuah sudut yang tidak dapat kita tebak ujungnya. Benar sekali—sebagaimana dikatakan di dalam sinopsis dwilogi karyanya yang dicantumkan di bagian dalam sampul—bahwa kali ini Andrea Hirata “memilih sudut yang tidak terduga untuk menampilkan kisah inspiratif”.

Setidaknya, hingga tiba halaman yang saya baca, saya menemukan ada tiga kisah cinta yang tak biasa. Pertama adalah kisah cinta dirinya—yang diwakili Ikal di masa muda (atau mungkin Ikal yang malah sudah beranjak dewasa)—dengan A Ling. Di novel terbarunya ini, kisah cinta Ikal dengan A Ling dieksplorasi sedemikian rupa sehingga dapat memunculkan kisah cinta yang lain. Kisah cinta Ikal dan A Ling berbalut prasangka dan kecemburuan. Yang unik, di antara kisah cinta itu, Andrea menyisipkan ketegangan (karena Andrea juga menciptakan seorang tokoh yang berperan menjadi detektif). Kisah cinta dan spionase? Entahlah.

Baca Juga  In Memoriam DR Sirikit Syah: Wartawati Senior yang Berhasil Melawan Kanker Sebaik-Baik Perlawanan

Kedua adalah kisah cinta Syalimah dan Zamzami yang membuka bab pertama novel Padang Bulan. Drama cinta Syalimah dan Zamzami ini menjadi “warna utama” lukisan Andrea Hirata ketika dia mulai mencorat-coret, menggurat baik secara dalam maupun dangkal, menempel macam-macam mozaik secara manasuka, dan bahkan kadang menyobek-nyobek “kanvas” yang telah dipajangnya di lembaran-lembaran Cinta di Dalam Gelas. “Kanvas” itu, sekali lagi, akhirnya menghasilkan sesuatu yang sangat indah tapi—menurut saya—berbalut misteri. Bahkan saya menangkap kesan bahwa kisah cinta Syalimah dan Zamzami ini seperti agak—sulit saya mengungkapkannya secara tepat—ironis atau malah benar-benar tragis!

Kisah cinta ketiga ada di dalam diri sang tokoh utama: Maryamah. Membaca sosok Maryamah, saya pun teringat ketika dulu pernah mengobrol dengan Andrea dan obrolan itu ditayangkan di www.mizan.com. Waktu itu saya bertanya, apa yang akan dikisahkan lagi novel berikutnya. Dia menjawab dengan bercerita akan risetnya tentang peran—sebenarnya tak tepat untuk menggunakan kata ini—perempuan di tengah masyarakat. Rupanya, hasil riset itu ditumpahkan di dwiloginya ini. Ada banyak sisi menarik yang dapat kita petik tentang cerita Andrea yang bertumpu pada perempuan bernama Maryamah. Jika kita mau fokus ke kisah cinta Maryamah maka kisah cintanya adalah kisah cinta yang penuh dendam dan kegigihan.

Baca Juga  Ketika Pers Lebih Tahu dari Polisi

Coba saja simak apa yang dikatakan Andrea ini: “Filosofi belajar Maryamah, ‘menantang semua ketidakmungkinan’, termanifestasi menjadi ideologi yang sangat jelas baginya dalam menguasai sesuatu. Ia tak pernah gamang, tak pernah tanggung-tanggung. Keadaan ini membuatku berpikir bahwa ideologi adalah sesuatu yang diperlukan dalam belajar, lebih dari sebuah otoritas…. Maryamah mencoba, gagal, mencoba lagi. Dia tak pernah jemu. Ketekunannya mengagumkan.”

Dan ketika derita melandanya, Maryamah akan berkata, “Habis air mataku, lunas sudah kesedihan itu. Hidup harus berlanjut. Tantangan ada di muka. Masih banyak yang dapat disyukuri,” ujarnya ringan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *