oleh

Lambung Kosong

PUBLIK terhenyak. Empat orang anggota satu keluarga ditemukan sudah tidak bernyawa di sebuah rumah. Mayat ditemukan warga dalam satu rumah di ruangan yang berbeda di Blok AC5, nomor 7, Perumahan Citra Garden Satu Extension, Jakarta Barat, Kamis malam (10/11/2022).

Polisi melakukan penyelidikan. Dari hasil pemeriksaan tim forensik RS Polri Kramat Jati, keempat jenazah keempat jenazah tidak makan dalam waktu yang cukup lama.

Tak ada tanda-tanda telah terjadinya kekerasan terhadap R (suami, 71), M (istri, 58), D (anak, 40), dan B (ipar, 68).

Mereka bukan filosof, seperti filosof Athena Socrates yang dieksekusi raja lantaran dianggap sesat dengan memberinya racun pada 399 SM.

Filsuf antroposentrisme, yang memandang dunia terpusat pada manusia itu akhirnya tewas.

Bukan. Keempatnya bukan filsuf atau pemikir atau aktivis yang berbahaya dimata kekuasaan.  Tak ditemukan zat berbahaya pada mayat.

Satu-satunya yang mencurigakan lambung keempat mayat itu kosong. Iya, sekali lagi hasil otopsi menyatakan lambung keempatnya kosong.

Aneh. Belum jelas kenapa keempatnya meninggal. Apakah karena tidak ada makanan sehingga mereka mati kelaparan? Polisi masih menyelidikinya. Pemberitaan mendalam media massa pun masih sepi. Baru sebatas pernyataan kepolisian.

Pertanyaannya kenapa pula lambung mereka kosong? Betul karena tidak ada makanan yang masuk atau mereka tidak makan. Berikutnya, mengapa mereka tidak makan atau tidak memasukkan makanan kedalam mulut, mengunyahnya lalu menelannya sehingga berkumpul di lambung.

Ini pertanyaan serius. Apakah karena tidak punya makanan di rumah itu? Tidak pula punya uang untuk membeli makanan? Tidak pula ada tetangga yang bisa dimintai bantuan atau yang bisa diutangi?

Publik pun menanti dengan cemas. Jika kematian keempatnya karena kelaparan maka ini adalah bencana besar sekaligus kutukan bagi negeri ini.

Tragedi kematian empat orang satu keluarga sekaligus, jika karena kelaparan menunjukkan ada yang salah dalam pengelolaan bernegara. Sistem ekonomi kapitalis atau neo liberal semakin usang dan semakin membebani kehidupan rakyat. Begitu pula tekanan sosial makin membuat kehidupan tidak nyaman.

Sumber kekyaan berputar pada segelintir orang atau pihak. Begitu pula Sumber Daya Alam (SDA) dikuasai segelintir orang dan pihak tertentu saja. Sementara rakyat kebanyakan tidak menikmatinya dan tidak mendapatkan peran yang proporsional.

Sistem ekonomi kapitalis yang kini mengatur sejumlah negara bahkan mendominasi dunia semakin menunjukkan kegagalannya. Kini negara satu persatu rontok akibat resesi. Krisis pangan kian menjalar.

Puluhan negara kini menjadi pasien IMF, puluhan lainnya mengantri. Konsep ekonomi pertumbuhan yang diagungkan hanyalah balon kosong.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO), dikutip Jumat (14/10/2022), IMF memastikan 31 negara secara teknikal masuk jurang resesi, di samping total 72 negara yang diproyeksikan mengalami resesi.

Sementara sejumlah negara Eropa yang mencoba mengambil jalan lain dengan mengadopsi konsep ekonomi yang ditawarkan Antony Giddens Antony GiddensThe Third Way tak lebih baik.

Gidden menawarkan “Jalan Ketiga” antara sosialisme dan liberalisme. Buah pikir intelektual unggulan Tony Blair tersebut dinilai para pakar telah melahirkan gagasan yang dianggap mustahil oleh berbagai kalangan.

Will Hutton, Editor-in-Chief, The Observer, menyebutkan Gidden berhasil membentuk sebuah definisi jalan ketiga yang koheren dan persuasif.

Lebih penting lagi, ia berhasil menegaskan bahwa jalan ketiga tidak berada di luar kiri dan kanan: jalan itu adalah bagian dari kiri, yaitu pembaharuan demokrasi sosial.

Sementara Ian Hargreaves, mantan Editor New Statesman dan The Independent menilai Gidden memberi sumbangan paling signifikan bagi upaya peletakan landasan intelektual posisi kiri-tengah.

Tapi, tak sedikit pula yang menilai gagasan Giddens justru membingungkan. Dan mustahil dapat diterapkan sempurna. Kalaupun diterapkan justru berada dalam ambiguitas dan tidak bertahan lama dengam berbagai alasan. Nyatanya kini Eropa pun sakit. Roda ekonomi makin pelan bergerak.

Malah sejak beberapa tahun terakhir sejumlah negara maju di Eropa dan Asia menerapkan suku bunga negatif untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan bergeraknya sektor rill.

Seperti Bank Sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) sejak awal menerapkan suku bunga negatif. Begitu pula seperti Swedia, Denmark, Uni Eropa, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

Nyatanya tak juga membuahkan hasil. Pertumbuhan ekonomi juga tak kunjung membaik. Pergerakan sektor rill juga terseok-seok, makin melambat. Belakangan ECB akhirnya memutuskan kenaikan suku bunga deposito bank sentral hanya 0,5 persen sejak 10 tahun terakhir.

Di dalam negeri kondisi juga tak lebih baik. Misalnya sejumlah pabrik di Jawa Barat mem-PHK karyawannya besar-besaran lantaran perusahaan tak lagi kuat menanggung beban biaya.

Terlepas apapun penyebab kematian empat orang atau satu keluarga itu. Kondisi dunia sedang tidak baik, bahkan kian hari kian memburuk. Barangkali inilah saatnya kita memikirkan ulang konsep ekonomi yang diadopsi. Memikirkan ulang konsep bernegara secara rasional dan dengan kepala dingin dalam ruang diskusi yang merdeka, bebas dari intervensi atau kecurigaan.

Soal kematian satu keluarga ini, tentu kita ikut prihatin. Kita ikut berduka sedalam-dalamnya. Kemanusiaan kita terusik. Hati kita ikut tersayat. Sistem sosial kita perlu pula dikoreksi dan ditimbang ulang. (*)

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *