Guru di Pangkalpinang Diminta Tak Gagap AI, Saparudin: Profesionalisme Tetap Jadi Kunci

PANGKALPINANG, SUARA — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tak lagi bisa dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari dunia pendidikan. Justru, teknologi tersebut kini dituntut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dimanfaatkan secara bijak oleh para guru.

Pesan itu disampaikan Wali Kota Pangkalpinang Saparudin saat membuka seminar bertema “Etos Kerja Profesional Guru dan Karyawan di Sekolah Katolik” di Ballroom Hotel Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Sabtu (5/9/2026).

Seminar tersebut diikuti para guru dan karyawan dari sejumlah yayasan pendidikan, di antaranya Yayasan Budi Mulia, Tunas Karya, dan Fitus Boma. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme tenaga pendidik sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi perubahan dunia pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Baca Juga  Rektor UBB Resmikan Gedung LPPM dan LPMPP, Perkuat Riset dan Mutu Pendidikan

Saparudin mengatakan, kehadiran AI merupakan sebuah keniscayaan. Karena itu, guru tidak cukup hanya mengenal teknologi, tetapi juga harus memahami cara menggunakannya secara tepat dalam mendukung pembelajaran.

“Kita memberikan penguatan kepada guru-guru dari beberapa yayasan. Kita ajak untuk berpikir mengenai cara pembelajaran di era Artificial Intelligence sekarang ini,” ujar Saparudin.

Menurutnya, AI dapat menjadi instrumen pendukung bagi guru dalam proses belajar mengajar. Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak boleh membuat prinsip akademik ditinggalkan.

Baca Juga  Pj Bunda PAUD Banyuasin Berikan Bantuan Permainan Edukatif

Saparudin mengingatkan bahwa AI memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi dan dibandingkan dengan sumber yang kredibel.

“Namun tentu ada batasan. Ada batasan AI sesuai dengan kemampuan AI,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga budaya ilmiah di lingkungan pendidikan. Guru maupun peserta didik harus tetap mengedepankan bukti dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan ketika menggunakan informasi dari AI.

“Di dunia pendidikan tentunya harus tetap ada bukti ilmiahnya. Misalnya kita mengatakan, ‘Oh, saya mengutip dari AI’, harus disebutkan,” tegasnya.

Baca Juga  Budi Utama Jadi Pembina Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke 79

Bagi Saparudin, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat guru kehilangan perannya. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan pendidik, bukan menggantikan tanggung jawab dan profesionalisme mereka.

Seminar tersebut diharapkan mampu mendorong para guru dan karyawan sekolah di Kota Pangkalpinang untuk terus meningkatkan kapasitas diri, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta tetap menjadikan profesionalisme, tanggung jawab, dan ketelitian ilmiah sebagai pijakan utama dalam menjalankan tugas.

Dengan begitu, para pendidik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengarah perubahan dalam dunia pendidikan di era AI. (Suf)