Genjot Hilirisasi, Kementan Kucurkan Rp9,5 Triliun untuk Dongkrak Ekonomi Pekebunan

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus tancap gas mempercepat hilirisasi subsektor perkebunan nasional demi meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus kesejahteraan pekebun.

Langkah strategis ini dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar komoditas perkebunan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah.

“Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi,” ujar Amran dikutip, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga  Tanpa Inovasi UMKM Sulit Pulih dari Krisis

Adapun fokus hilirisasi diarahkan pada tujuh komoditas unggulan, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete. Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ekonomi pekebun sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemerintah pun mengalokasikan anggaran jumbo sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas tersebut dengan target pengelolaan 870.000 hektare kebun rakyat selama periode 2025–2027.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Abdul Roni Angkat, menyebutkan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lapangan guna memastikan kesiapan program.

Baca Juga  Gubernur Erzaldi dan Bank Sumselbabel Dukung Petani Porang dan Jahe Merah Lewat KUR

“Kami memetakan potensi lahan, memverifikasi CPCL, dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pekebun. Ini memang proses yang tidak sederhana, tapi penting agar program berjalan optimal,” jelasnya.

Selain memperkuat sektor budidaya, Kementan juga mendorong pengembangan produk turunan seperti gula dari tebu, cokelat dari kakao, produk olahan kelapa, hingga rempah-rempah bernilai tinggi dari pala dan lada. (**)