12 Jembatan Keledai Aksi Panggung Vokalis

Catatan Didik Luhur Pambudi

Sebenarnya tulisan ini disarikan dari pengalaman berteater selama di Teater O Universitas Sumatra Utara (USU) di kurun waktu 1990-an, saat saya masih mahasiswa.

Dalam masa itu saya mendapat penggemblengan dasar tentang teknik akting dari para senior dan terutama almarhum Buoy Hardjo (guru teater saya).

Buoy selalu mengedepankan teknik perwatakan untuk “menjadi” bukan “berperan” di atas panggung teater.

Satu buku yang paling umum dipakai dalam pelatihan teater kami adalah “12 Jembatan Keledai” karya alm WS Rendra.

Dalam perjalanan sebagai penulis lagu dan anggota Vokalis Rock Indonesia, saya menilai, pemahaman tentang akting di teater dan aksi di panggung memiliki beberapa kesamaan.

Tulisan ini pun hanya sekadar catatan saya bukan diperuntukkan bagi para musisi yang sudah malang-melintang di panggung pertunjukan, sehingga saya beri judul “12 Jembatan Keledai untuk Aksi Panggung”.

Baca Juga  Ketika Kisah Cinta Masih Tersimpan di Email

Saya menilai, teori ini tidak dibutuhkan para musisi bertalenta apalagi yang telah memiliki jam terbang tinggi.

Begitupun, jika dirasa ada baiknya, saya sungguh berterima kasih.

Pertama, pada dasarnya aksi panggung harus dilatari dengan pemahaman terhadap lirik sebab liriklah jiwa dari sebuah lagu. Nada dan aransemen hanyalah memperkuat agar lirik yang ingin disampaikan penulis lagu dapat lebih dipahami; diresapi.

Demikian pula penjiwaan terhadap lirik lagu penting dipahami para musisi, dalam hal ini vokalis.

Kedua, lantaran lirik adalah jiwa sebuah lagu, penting bagi para vokalis untuk memahami apa yang ingin disampaikan lagu itu. Tentang kesedihan, kegembiraan, kebahagiaan, ketakutan, kebimbangan.
Vokalis harus tahu makna sebuah lagu/lirik. Jangan sesekali sekadar hapal apalagiĀ  lupa lirik.

Baca Juga  Lancar Berbahasa Inggris Lewat Media Lagu

Ketiga, setelah memahami makna sebuah lagu maka vokalis (juga musisi lainnya) harus membuat sebuah skenario apa tindakan/aksi yang harus dilakukan hingga penonton ikut larut ke dalam aksi mereka.

Keempat, dalami dan resapi kata demi kata dalam lirik dan tunjukkan dalam aksi bait mana yang harus ditonjolkan dalam penampilan.

Kelima, carilah bagian lirik lagu yang menarik untuk ditimbulkan dalam aksi panggung.

Keenam, perhatikan untuk menjaga pemahaman terhadap naskah dengan menunjukkannya lewat mimik, sikap dan gerakan anggota tubuh lainnya sehingga penonton paham, vokalis benar-benar menghayati makna lagu.

Ketujuh, jaga dengan akurat agar mimik dan gerakan anggota tubuh lainnya itu sesuai dengan lirik lagu yang dinyanyikan.

Baca Juga  Menolak Kriminalisasi Nelayan Babel

Kedelapan, rancanglah sebuah aksi sehingga makin menunjukkan penghayatan vokalis pada lirik lagu.

Kesembilan, rancanglah aksi panggung secara rinci, seperti anak tangga menuju puncak, sehingga semakin lama penghayatan vokalis semakin menonjol.

Kesepuluh, penting diingat, pemahaman dan aksi yang dilakukan diketahui para musisi lainnya dengan baik sehingga terjadi kerjasama yang apik.

Kesbelas, keseluruhan aksi panggung tersebut harus dilakukan dengan memahami etika pertunjukan standar (tidak membelakangi penonton/blocking; bergerak di saat yg tepat; tetap menjaga posisi segitiga atau piramida; panggung utk drummer harus lebih tinggi…).
Aksi ini harus dilatih dan diingat sehingga tidak kacau saat pertunjukan.

Keduabelas, penjelmalah sebagai penulis lagu. Vokalis bukanlah vokalis saat di atas panggung tetapi penulis lagu yang bernyanyi dengan jiwanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *